Riau Biru

  • Breaking News

    Riau bebas titik api dalam 24 jam terakhir (LAPAN, 17 Mei 2019, data pukul 13.15 WIB) --- 11 stasiun ISPU KLHK di Provinsi Riau seluruhnya tunjukkan kualitas udara berada pada level hijau/sangat sehat (data tanggal 17 Mei 2019)

    WWF Goes to School – Ajak Generasi Muda Perangi Krisis Iklim Akibat Kebakaran Lahan Gambut


    Penyerahan cinderamata dari WWF kepada kepala sekolah SMAN 1 Bukit Batu. Foto : Muhammad Alqodri/WWFID

    Desa Sejangat (10/9); Langit biru di Desa Sejangat, Kecamatan Bukit Batu pagi itu tampak memudar karena asap. Namun semangat anak-anak SMAN 1 Bukit Batu untuk mengikuti kegiatan pendidikan lingkungan hidup yang ditaja oleh WWF, tak sedikitpun memudar. Melalui kegiatan ini, WWF Indonesia program Peatland Sumatera mengajak generasi muda untuk memerangi krisis iklim akibat kebakaran lahan gambut.
     
    Kegiatan yang bertemakan “Urgensi Peran Sekolah dalam Upaya Pencegahan Kebakaran Lahan Gambut dan Perubahan Iklim” ini tidak hanya dihadiri oleh 700 siswa SMAN 1 Bukit batu namun juga mitra WWF seperti Bina Cinta Alam (BCA), pemerintah setempat, RRI Bengkalis dan Masyarakat Peduli Api (MPA).

    Dalam sambutannya, Zainuddin Khalid selaku Manager Program Peatland Sumatera menyebutkan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu bentuk penyadartahuan kepada masyarakat. “Restorasi lahan gambut adalah tugas berat. Yang paling penting adalah memitigasi kebakaran lahan gambut dengan berkolaborasi erat dengan masyarakat dan pemangku kepentingan termasuk pemerintah, mitra dan WWF,” ungkapnya. 

    Desa Sejangat merupakan salah satu desa yang menjadi target restorasi gambut oleh WWF. Sejak 2017, WWF bersama mitra telah mengusung program 3RE+ (rewetting, revegation, remobilization) sebagai upaya pemulihan lahan gambut dan pencegahan kebakaran.

    “Hingga saat ini kita sudah membuat 35 sekat kanal di 10 desa target, kemudian melakukan revegetasi 6000 bibit tanaman dan pemasangan 10 alat Early Warning System.” Tambah Zainuddin. 

    Pada kesempatan yang sama, Kepala Sekolah SMAN 1 Bukit Batu juga menyampaikan dukungannya terhadap kegiatan ini. “Kita sangat menyambut baik kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh WWF di desa kita, termasuk di sekolah kita ini. Apalagi sekolah kami sudah memperoleh prediket sekolah adiwiyata terbaik pada tahun 2013 lalu.” Ungkap Edi Yusri, Kepala Sekolah SMAN 1 Bukit Batu.

    Pendidikan lingkungan dilakukan melalui talkshow interaktif, yang mana dalam kegiatan ini, WWF menghadirkan tiga orang narasumber yakni akademisi, praktisi lingkungan dan pihak sekolah SMAN 1 Bukit Batu.

    Dalam pemaparannya, Dr. Prima, yang merupakan akademisi di salah satu Universitas di Riau menyebutkan krisis iklim dapat diatasi dengan adanya kolaborasi berbagai berbagai pihak. Beliau turut menghimbau kepada siswa- siswa untuk membiasakan pola hidup ramah lingkungan. Ketiga pembicara juga sepakat bahwa siswa – siswa SMA yang notabenenya adalah generasi milenial dapat menjadi agen perubahan untuk lingkungan. 
     
    Selain talkshow, WWF juga mengadakan kegiatan penanaman pohon yang adaptif gambut di Desa Sepahat bersama perwakilan pihak sekolah. Penanaman pohon Gaharu dan Ramin ini juga didampingi oleh MPA setempat.

    Penanaman di Desa Sepahat. Foto : Ilham Alfadli/WWFID
    Melalui kegiatan pendidikan lingkungan ini, WWF-Indonesia berharap dapat membantu para pendidik dan pengelola sekolah untuk mempersiapkan generasi mendatang mendapat bekal pengetahuan yang bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga fungsi-fungsi ekosistem penunjang kehidupan manusia.
      
    Puncak acara ditandai dengan pemilihan dua orang siswa SMAN 1 Bukit Batu sebagai perwakilan sekolah yang akan mengikuti pelatihan di Lampung.
      


    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad