Riau Biru

  • Breaking News

    Riau bebas titik api dalam 24 jam terakhir (LAPAN, 17 Mei 2019, data pukul 13.15 WIB) --- 11 stasiun ISPU KLHK di Provinsi Riau seluruhnya tunjukkan kualitas udara berada pada level hijau/sangat sehat (data tanggal 17 Mei 2019)

    WWF Pandu MPA Desa Sepahat untuk Monitoring Pertumbuhan Pohon Melalui Metode Geotag


    Foto bersama seluruh peserta pelatihan monitoring survival rate dan geotag di Desa Sepahat, Kabupaten Bengkalis. Foto : Nindi Muhda
    Desa Sepahat (29/7); Sebagai lanjutan dari kegiatan revegetasi lahan gambut pada bulan Mei lalu, pekan ini WWF mengadakan pelatihan monitoring pertumbuhan tanaman di Desa Sepahat, Kecamatan Bandar Laksmana. Dalam sambutannya, Zainudin Khalid selaku Manager Sumatera Peatland mengungkapkan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memudahkan pengamatan dalam perkembangan tanaman. “Tanaman yang sudah ditanam kemudian kita amati diameter dan tinggi tanamannya menggunakan aplikasi ODK collect dan geotag, agar memudahkan pemantauan.” ungkapnya.

    Hal yang sama juga diungkapkan oleh Jerry Quarry selaku pemateri dari WWF Indonesia. “Program ini memberikan wacana baru bagi masyarakat guna membantu proses reforestasi untuk melindungi lahan gambut mengawasi pertumbuhan pohon-pohon melalui geotag.

    Selain dihadiri oleh MPA, turut hadir UPT KPH Bengkalis, serta mahasiswa KKN yang berada di Desa Sepahat. Dalam kesempatan yang sama, KPH Bengkalis, Sutri Helpida menyatakan apresiasinya atas kegiatan pelatihan ini. “Kita sangat mendukung kegiatan WWF ini  dan akan mengelola secara bersama lahan di Desa Sepahat dengan luasan 15 Ha ini. Kita tidak hanya melakukan penanaman awal akan tetapi mengelola secara berkelanjutan dengan memperoleh hasil ekonomi dan sosial secara maksimal.” 

    Kebakaran lahan dalam satu dekade terakhir dan praktik tata kelola lahan gambut yang salah telah menyebabkan rusaknya tutupan alami lahan gambut di banyak wilayah, termasuk Giam Siak Kecil, Kabupaten Bengkalis. Hilangnya tegakan hutan akibat kebakaran hutan yang terjadi menyebabkan fungsi ekologis tidak berjalan secara optimal, mengingat peran tegakan hutan sangat penting yakni sebagai pengatur air atau reservoir.

    Untuk mengembalikan lahan gambut ke keadaan alaminya (tertutupi oleh vegetasi), WWF bersama dengan MPA Desa Sepahat telah melakukan penanaman untuk revegetasi kawasan seluas 15 hektar.
    “Sebagai bentuk upaya pemulihan lahan gambut, saat ini WWF sedang melakukan Revegetasi dengan menanam tanaman buah dan tanaman kayu. Untuk jenis tanaman buah kita pilih tanaman yang bernilai ekonomi. Harapannya, areal yang sudah ditanam ini bisa bermanfaat dan menjadi lokasi riset atau wisata nantinya.” jelas Samsul Komar, Forest Fire Monitoring and Restoration Specialist. 

    Melalui praktik langsung di lapangan, WWF memperkenalkan kepada MPA Desa Sepahat sebuah inovasi teknologi “geotag” (pelabelan pohon) yang dapat digunakan untuk memantau survival rate tanaman pasca penanaman hingga 24 bulan setelah penanaman. Geotagging merupakan bagian dari program NewTrees yang digagas oleh WWF Indonesia untuk mengajak korporasi juga masyarakat untuk peduli dan sadar pada kerusakan lingkungan yang terjadi. 

    Praktik monitoring pertumbuhan tanaman menggunakan aplikasi ODK collect dan geotag. Foto : Nindi Muhda
    Pada sesi akhir acara, Sekretaris Desa Sepahat, Muhammad Ali mewakili pemerintah desa menyampaikan harapannya agar kegiatan restorasi lahan gambut di desa mereka tidak hanya dilakukan oleh lembaga WWF tetapi juga dari berbagai stakeholder.

    Puncak acara ditandai dengan penyerahan 4 Unit Smartphone oleh WWF kepada Tim MPA Desa Sepahat yang dapat digunakan untuk keperluan monitoring survival rate tanaman kedepannya.

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad