Riau Biru

  • Breaking News

    Riau bebas titik api dalam 24 jam terakhir (LAPAN, 17 Mei 2019, data pukul 13.15 WIB) --- 11 stasiun ISPU KLHK di Provinsi Riau seluruhnya tunjukkan kualitas udara berada pada level hijau/sangat sehat (data tanggal 17 Mei 2019)

    Pulau-Pulau Gambut Riau Terancam Terburai ke Laut



    Pusat Studi Bencana (PSB), salah satu pusat studi yang bernaung di bawah LPPM Universitas Riau kembali menggelar sebuah diskusi ilmiah bertemakan erosi atau abrasi lahan pesisir pulau gambut, khususnya dengan menyorot kasus yang  terjadi di Pulau Bengkalis. Tema diskusi ini menyambung diskusi yang telah ditaja sebelumnya (Riaupos, 17/04/2019).

    Bertindak sebagai narasumber kali ini (18/06/2019) adalah Prof. Koichi Yamamoto, seorang ahli “environmental engineering” dan “sediment transport” dari Universitas Yamaguchi, Jepang. Peneliti yang sudah sejak enam tahun terakhir ini aktif melakukan penelitian di Pulau Bengkalis ini kebetulan antara bulan Mei hingga September tahun 2019 ini menjadi profesor tamu di Fakultas Teknik Universitas Riau.

    Dr. Yamamoto dalam diskusi ini menyoroti salah satu aspek penting yang ia jumpai di lapangan, yaitu apa yang ia sebut “peat failure” dan dampaknya bagi pulau-pulau gambut seperti Bengkalis. Ia mengemukakan proses bagaimana gambut mengalami longsor (“peat slide”) dan terburai ke laut (“bog burst”). Pemicu proses ini, selain deforestasi dan alih guna lahan gambut juga masifnya kanalisasi sebagai upaya drainasi dalam pembangunan perkebunan. Kanal-kanal mengiris kubah gambut dan  mengoyakkan keutuhan lahan gambut. Akibatnya, ketika hujan deras turun bongkahan-bongkahan gambut longsor dan terburai ke arah laut. Menurutnya, ini merupakan proses yang sangat degeneratif dan mengancam eksistensi pulau-pulau gambut dalam jangka panjang. Melaui proses ini, daratan pulau gambut bisa lenyap dengan laju mencapai 40 m/tahun.

    Fenomena lain yang menarik yang ditemukan peneliti Jepang ini adalah munculnya beting-beting gambut yang ia sebut “temporary peat fan” di sepanjang garis pesisir. Beting-beting ini tidak lain merupakan sebagian massa gambut yang terburai ke laut dan terhanyut balik ke pesisir. Orang Melayu menyebutnya serpihan gambut ini sesai. Yamamoto mengungkapkan bahwa umumnya beting-beting yang dibentuk sesai sangat tidak stabil, biasanya terburai ulang setelah beberapa bulan atau tahun. Meskipun demikian,  ia menemukan bahwa di lokasi yang tepat beting gambut bisa stabil dan bahkan membentuk daratan baru. Proses yang menjadi kebalikan dari erosi atau abrasi pesisir ini disebut akresi. Dalam hal ini, hasil akresi muncul di ujung barat laut Pulau Bengkalis. Salah satu faktor yang menentukan stabilitas daratan baru ini adalah kehadiran vegetasi mangrove yang perakarannya menjadi penggenggam lumpur maupun sesai.

    Diskusi ilmiah yang ditaja sebagai “2nd PSB Peat Circle” dan berlangsung di auditorium LPPM Universitas Riau ini dihadiri oleh hampir 50 orang peserta yang terdiri para dosen, mahasiswa S1, mahasiswa S2, serta peminat umum. Diharapkan forum ilmiah ini dapat semakin menarik perhatian sivitas akademis UNRI maupun masyarakat terhadap berbagai bentuk bencana, baik yang aktual maupun potensial, yang diakibatkan oleh kesalahan pengelolaan lahan gambut, khususnya di Provinsi Riau. Ketua PSB, Dr. Sigit Sutikno, menyatakan kehadiran Prof. Yamamoto dan para mahasiswanya di Riau sekaligus menjadi pengingat bagi para peneliti lokal untuk jangan sampai kalah peduli terhadap berbagai perubahan lingkungan di wilayah ini. “Jangan sampai kita kalah tahu dibanding mereka,” kata peneliti hidrologi gambut ini (am/psb)

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad