Riau Biru

  • Breaking News

    Riau bebas titik api dalam 24 jam terakhir (LAPAN, 17 Mei 2019, data pukul 13.15 WIB) --- 11 stasiun ISPU KLHK di Provinsi Riau seluruhnya tunjukkan kualitas udara berada pada level hijau/sangat sehat (data tanggal 17 Mei 2019)

    Tren Membawa Tumbler Sebagai Upaya Pengurangan Sampah Plastik

    Ilustrasi Botol Air Minum (Tumbler). Foto: Shutterstock

    Permasalahan sampah menjadi isu yang hangat untuk segera di selesaikan di berbagai negera, termasuk di Indonesia. Jumlah pertumbuhan manusia yang kian bertambah, aktivitas dan gaya hidup semakin beragam, membuat sampah kian menumpuk. Di sisi lain, jumlah dan belum tepatnya pengelolaan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA), serta permasalahan terkait dasar hukum, intitusi pengelolaan sampah, teknik dan biaya membuat problema sampah semakin serius. Bahkan lebih fatalnya lagi negara kita, notabenenya adalah negara kepulaan dalam artian dua pertiga kawasannya terdiri dari luas bentang laut dimana semua sampah dari daratan yang tidak terurai akan bermuara di lautan. 

    Sebuah studi yang di lakukan oleh kelompok kerja ilmiah di Pusat Nasional UC Santa Barbara telah diterbitkan dalam jurnal science. Studi ini menghitung masukan sampah plastik dari tanah ke laut. Hasil penelitian ini menunjukkan ada 8 juta ton sampah plastik mencemari lautan setiap tahun. National Geographic (2016) menyatakan Indonesia sebagai negara darurat sampah. Celakanya, Indonesia dinobatkan sebagai peringkat kedua dunia penyumbang sampah plastik ke laut setelah Tiongkok (Sciencemag). Bahkan, dari hasil riset Green generation, orang Indonesia rata-rata memanfaatkan 700 kantong plastik per tahun. Belum termasuk sampah dari barang-barang plastik lainnya, botol minuman dan wadah makanan yang jumlahnya naik signifikan.

    Keberanian dan langkah konkrit yang di berlakukan oleh Menteri KKP ini perlau diapresiasi dan perlu di contoh bagi stakeholder lainnya. Membawa tumbler harus menjadi budaya dalam keseharian kita selama ber aktifitas, aksi kecil ini sangat mudah dan dapat dilakukan siapa saja dengan melakukan tersebut kita sebagai masyarakat sudah melakukan diet sampah plastik, Direktorat Pengelolaan Sampah KLHK  mengatakan 1 Tumbler bisa mencegah 4 sampah botol plastik kemasan air minum per hari.

    Membawa Tumbler banyak memberikan manfaat pertama menjaga kesehatan, kebiasaan membawa tumbler mendukung kita untuk banyak mengkonsumsi air minum karena lebih mudah, tinggal buka tumbler dan minum sehingga kebutuhan tubuh akan air mineral jadi terpenuhi. 

    Kedua adalah bentuk penghematan, dengan mebawa tumbler kita sudah menghemat pembelian air mineral dengan botol plastik ketika berpergian, jika kita membawa air mineral dengan tumbler yang telah di persiapkan dari rumah tentu uang yang tadinya harus terpakai untuk membeli air mineral konvensional dapat di tabung. 

    Gerakan membawa Tumbler ini harus terus dapat di berlakukan di berbagai komponen termasuk bagi pelajar di sekolah – sekolah. Kepala Sekolah bisa membuat paket kebijakan dengan menghimbau pengajar dan peserta didik membawa tumbler dan di sediakan fasilitas pengisian ulang air minum yang berada di sekolah. Botol Tumbler menjadi salah satu wadah favorit yang kerap digunakan untuk menyimpan air. Akhir – akhir ini botol tumbler kini telah melakukan inovasi untuk menarik pangsa pasar. 

    Ketiga Persiapan Diri, Jika kita berkegiatan di outdoor seperti mendaki gunung dan wisata pantai  air minum merupakan kebutuhan mendasar untuk menjalani hidup. Jadi jika ketika persediaan air minum sudah ada, setidaknya kita masih bisa untuk terus  beraktivitas. Keempat merupakan Bentuk Cinta Lingkungan. Oleh sebab itu, mulai  saat ini beralihlah untuk menggunakan botol tumbler untuk dijadikan sebagai wadah air minum dalam kegiatan sehari-hari di luar rumah. Selain lebih hemat biaya, tentu saja akan membuat kita lebih sehat karena mengkonsumsi air minum yang dimasak sendiri dan mejadi pelopor kebersihan dalam aksi diet sampah plastik. 

    Sampah plastik merupakan limbah yang paling banyak ditemukan di bumi ini. Dari sampah-sampah plastik itu, botol air minuman kemasan menjadi salah satu penyumbang terbesar dan tidak hanya itu botol air minum plastik menjadi limbah dengan waktu penguraian yang paling lama. Dalam penelitian penguraian sampah botol plastik membutuhkan waktu selama 450 tahun. Hal ini menjadi dilema di kalangan masyarakat. Botol air minum yang seharusnya membantu kita dalam mengusir dahaga ternyata memiliki dampak yang buruk bagi lingkungan. Sampah plastik akan mempengaruhi  dan mengancam kelestarian ekosistem bahkan dari akibat pencemaran sampah plastik di laut telah ditemukan kandungan plastik berukuran mikro dan nano pada biota dan sumber daya laut di perairan Indonesia. 

    Menyikapi akan hal tersebut, Pemerintah Indonesia telah membuat komitmen dalam bentuk Rencana Aksi untuk menangani sampah Plastik di Laut Sebesar 70 % sampai 2025 melalui Perpres No. 83 Tahun 2018. Didalam Perpres tersebut memberikan arahan strategis bagi kementerian/lembaga dan acuan bagi masyarakat dan pelaku usaha dalam rangka percepatan penanganan sampah laut untuk periode delapan tahun, terhitung sejak tahun 2018 sampai dengan tahun 2025. Rencana Aksi tersebut telah nyata di lakukan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan dimana memberlakukan kebijakan memberikan Denda Rp. 500.000 bagi PNS Kementerian Kelauatan dan Perikanan yang membawa botol air kemasan. 

    PENULIS:
      
    Khairul Mukmin Lubis (relawan Generasi Muda Peduli Desa Gambut Terintegrasi tahun 2018)
    Kontak: kmukmin852@gmail.com

    Kunjungi juga: Perpres No. 83 Tahun 2018 tentang Penanganan Sampah Plastik

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad