Riau Biru

  • Breaking News

    Riau bebas titik api dalam 24 jam terakhir (LAPAN, 17 Mei 2019, data pukul 13.15 WIB) --- 11 stasiun ISPU KLHK di Provinsi Riau seluruhnya tunjukkan kualitas udara berada pada level hijau/sangat sehat (data tanggal 17 Mei 2019)

    Pusat Studi Bencana (PSB) LPPM UNRI Taja Diskusi Ilmiah Tentang Ancaman Kehancuran Pulau-Pulau Gambut Sumatera

    PEKANBARU (23/05) - Baru-baru ini isu tentang abrasi pesisir pantai timur Sumatera, khususnya Riau, semakin marak diberitakan baik di media massa maupun di media sosial. Menanggapi hal ini, Pusat Studi Bencana (PSB) LPPM Universitas Riau telah menaja sebuah diskusi ilmiah berkenaan dengan isu ini. Diskusi yang diberi tajuk “Ancaman Kehancuran Pulau-Pulau Gambut Sumatra: Refleksi dari Bengkalis dan Kepulauan Meranti, Riau” ini telah dilaksanakan pada hari Kamis, 16 Mei 2019 bertempat di Aula LPPM Universitas Riau. 

    Foto bersama peserta diskusi ilmiah tentang ancaman kehancuran pulau-pulau gambut Sumatra pada 16 Mei 2019. Foto: Dokumentasi PSB LPPM UNRI
    Narasumber dalam diskusi ini adalah Dr. Eng. Sigit Sutikno, ST., MT., dosen Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Riau, yang sekaligus merupakan Koordinator PSB yang yang baru. Acara ini juga dihajatkan untuk membuka sebuah diskusi ilmiah bulanan yang diberi nama “PSB Peat Circle” yang dicanangkan sebagai ajang presentasi dan diskusi berbagai isu terkait lahan gambut yang ada di Riau. Forum ini diharapkan akan dapat meningkatkan perhatian masyarakat, terutama komunitas akademis di lingkungan Universitas Riau sendiri, terhadap berbagai persoalan krusial yang tidak dapat dipisahkan dari lahan gambut yang ada di Provinsi Riau. Peserta diskusi ini terdiri dari para dosen dan mahasiswa dari berbagai fakultas yang ada di Universitas Riau serta sejumlah peminat dari kalangan Lembaga swadaya masyarakat yang ada di Pekanbaru. 

    Dalam paparannya Sigit Sutikno mengemukakan berbagai temuan dalam penelitiannya di lapangan yang telah berlangsung sejak tahun 2014 lalu. Bekerjasama dengan Prof. Koichi Yamamoto dari Universitas Yamaguchi Jepang, ia berupaya mengungkapkan ancaman kehancuran pulau-pulau gambut yang ada di Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Kepulauan Meranti. “Yang sedang berlangsung saat ini sangat mengkhawatirkan. Hilangnya vegetasi mangrove dan alih fungsi lahan hutan gambut menjadi lahan perkebunan telah memicu terjadinya abrasi pesisir yang mengikis daratan dengan laju belasan hingga puluhan meter setiap tahunnya. Hilangnya tanggul pulau-pulau telah menyebabkan ombak menggerus langsung lahan gambut di Pulau Rangsang, Pulau Bengkalis, Pulau Padang, Pulau Merbau, Pulau Rangsang, dan Pulau Tebing Tinggi, yang rata-rata hampir seluruh permukaan daratannya merupakan lahan gambut!” tandasnya.

    Lebih parah lagi, lahan gambut di pulau-pulau tersebut juga terus mengalami degradasi yang sumbernya dari berbagai aktifitas manusia di darat. Deforestasi dan konversi lahan gambut disertai pembangunan kanal-kanal drainasi telah mengakibatkan kubah-kubah gambut yang ada mengalami kerusakan parah. Menurunnya kemampuan kubah-kubah gambut ini menyerap dan menyimpan air membuat lahan gambut di sekelilingnya mengering di musim kemarau dan menjadi lebih mudah terbakar. Oleh karenanya, tidak mengherankan bahwa kebakaran lahan gambut di pulau-pulau tersebut hampir selalu berulang di lokasi-lokasi yang sama. “Jadi, ancaman kehancuran pulau-pulau gambut Sumatera terjadi pada arah 3D, dari sisi laut karena adanya abrasi, dari sisi darat kebakaran, dan arah vertikal subsiden!” tambahnya.

    Narasumber Dr. Sigit Sutikno, M.Eng memaparkan materi diskusi Foto: Dokumentasi PSB UNRI
    Mengambil contoh kasus sebuah lahan konsesi perkebunan kelapa sawit yang ada di Pulau Bengkalis, Sigit menyebutkan penurunan kemampuan kubah gambut menyimpan air menyebabkan terjadinya fenomena bog burst atau longsornya lahan gambut pada waktu musim hujan. Hal ini membuat air laut lebih leluasa memasuki daratan dan menyeret balik bongkahan-bongkahan gambut ke arah laut. Apabila hal ini terus berlanjut, maka cukup mudah untuk meprediksikan masa depan yang suram bagi pulau-pulau yang juga mengalami hal serupa.     

    Sebagai penutup paparannya, Sigit menyebutkan bahwa saat ini Pemerintah Indonesia, melalui Badan Restorasi Gambut (BRG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kemenko Maritim, TNI AL dan Pemda Riau sedang mempersiapkan sebuah rencana mitigasi berskala besar yang didukung oleh PBB bidang lingkungan (UNEP) untuk mencegah bencana yang dikhawatirkan menjadi kenyataan. Ia berharap, Universitas Riau dapat banyak berperanan dalam proses mitigasi ini, misalnya melalui penelitian pengembangan hybrid engineering dalam penangkalan abrasi dan restorasi pesisir. Dalam hal ini, yang ia maksud adalah rekayasa yang menggabungkan bantuan manusia dan kemampuan potensial alam untuk memulihkan diri.***

    © Riau Biru

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad