Riau Biru

  • Breaking News

    Riau bebas titik api dalam 24 jam terakhir (LAPAN, 17 Mei 2019, data pukul 13.15 WIB) --- 11 stasiun ISPU KLHK di Provinsi Riau seluruhnya tunjukkan kualitas udara berada pada level hijau/sangat sehat (data tanggal 17 Mei 2019)

    Pencegahan Kebakaran Untuk Menyelamatkan Gambut Dari Kerusakan Yang Lebih Parah

    Wilayah gambut merupakan ekosistem yang memiliki nilai konservasi tinggi. Lahan gambut memiliki berbagai macam potensi seperti kemampuan menyimpan air dan karbon (Bispo et al. 2016), biodiversitas yang tinggi (Wibowo et al. 2015; Sasidhran et al. 2016), wilayah perkebunan sawit (Elaeis guineensis) dan akasia (Acasia sp) yang luas (Afriyanti et al. 2016; Evans et al. 2019) serta habitat bagi tumbuhan rumbia (Metroxylon sagu) (Suryana, 2007). Sehingga tidak salah jika lahan gambut memiliki nilai penting baik dari segi fungsi ekologi maupun fungsi ekonomi yang menyebabkan adanya multi kepentingan pada lahan tesebut.

    Lahan gambut dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi dalam skala luas dalam dua dekade terakhir (Mubekti, 2011) baik pada level nasional, regional, maupun global. Pemanfaatan lahan gambut sejalan dengan alih fungsi lahan hutan alam menjadi non hutan. Hutan pada wilayah gambut di Asia Tenggara dilaporkan mengalami penurunan tutupan hutan seluas 31.000 km2 dalam waktu 2 dekade dan diprediksi akan habis pada tahun 2030 (Miettinen et al. 2012). Sementara di Sumatera, 75% lahan gambut berhutan pada tahun 1990 dan tersisa 25% pada tahun 2010 (Gambar 1). Dalam kurun 2 dekade tersebut, terjadi peningkatan produksi perkebunan sawit di Sumatera dan Kalimantan yang hingga menempati 3 juta Ha lahan gambut (Afriyanti et al. 2016).

    Gambar 1. Perubahan Tutupan Lahan Gambut di Sumatra. (Sumber: Miettinen et al. (2012). hlm. 126)
    Pemanfaatan lahan seperti kebun campur (Gambar 2a) dan kebun sawit (Gambar 2b) dan perlakuan terhadap lahan gambut misalnya pembuatan drainase memberikan dampak negatif terhadap lahan gambut seperti perubahan karakteristik lahan dan hidrologis dan turunnya fungsi ekologis (Noor, 2016). Pada beberapa lokasi pengembangan, drainase atau saluran dibuat terlalu dalam (>1,5 meter) tanpa memperhatikan ketebalan gambut dan kedalaman lapisan pirit sehingga mempercepat terjadinya penurunan tanah dan pemasaman tanah dan air (Noor, 2010; Evans et al. 2019) yang turut berkontribusi terhadap kemudahan lahan gambut untuk terbakar di musim kemarau dan menyebabkan berbagai macam kerugian (Jayachandran, 2009; Hayasaka et al. 2014). Provinsi Riau merupakan wilayah yang paling banyak ditemukan hotspot kebakaran lahan pada rentang tahun 2007 hingga 2014 (Kirana et al. 2016).

    Gambar 2a (kiri). Pemanfaatan lahan gambut dengan kebun campur. Gambar 2b (kanan). Pemanfaatan lahan gambut dengan kebun kelapa sawit. (Sumber: Dokumentasi pribadi)
    Gambut hari ini sebagian besar telah terdegradasi, oleh karena itu perlu dikelola secara hati-hati agar lahan gambut tidak semakin kering dan mudah terbakar. Dampak kebakaran tidak hanya merusak struktur ekosistem gambut namun permasalahan lainnya adalah menghasilkan kabut asap yang meluas hingga mancanegara dan juga berpengaruh dalam peningkatan gas rumah kaca (GHG). Dengan demikian, pencegahan kebakaran lahan gambut harus menjadi prioritas, baik pada skala kecil maupun dalam skala besar di lahan masyarakat, pemerintah maupun pemilik konsensi seperti perusahaan HTI dan perkebunan kelapa sawit di lahan gambut. Setiap pihak harus memahami bahwa pengelolaan tata air gambut sebagai sebuah ekosistem sangat penting (Gambar 3), mengingat pengelolaan tata air yang baik adalah kunci dari suksesnya penggunaan lahan gambut. Sebagai contoh pemanfaatan lahan pertanian/perkebunan dan kehutanan harus diawali dengan pengaturan tinggi muka air tanah (TMAT) gambut yang tidak terlalu dalam agar gambut tidak kering, mengalami subsiden dan menjadi rawan kebakaran (Setiadi, 1999).   

    Gambar 3. Bagan keterkaitan antara Tinggi Muka Air (TMA) dengan ekosistem rawa gambut. (Sumber: Gunawan, 2016)
    Mengingat pentingnya menjaga kondisi gambut, maka perlu upaya mitigasi pencegahan kebakaran lahan gambut dengan beberapa langkah-langkah sebagai berikut
    (1) Monitoring kondisi gambut terutama keadaan tinggi muka air tanah (TMAT) pada berbagai penggunaan lahan secara berkala, baik di perkebunan sawit, karet, HTI dan hutan gambut alami dan penggunaan lahan gambut lainnya baik secara manual atau/dan menggunakan data logger atau EWS (Early Warning System). Penggunaan alat ini membantu untuk mengetahui sejauh mana TMAT dan kelembaban tanah sebagai peringatan dini tindak pencegahan terjadinya kekeringan gambut dan kebakaran lahan. Selain itu, perlu mengevaluasi kerapatan dan kedalaman saluran yang dibuat sekitar lahan tersebut (Noor, 2016).
    (2) Meningkatkan partisipasi masyarakat. Dengan memberikan penyadaran, pemberian intensif dan peningkatan kapasitas melalui pelatihan dan pembimbingan. Mengingat masyarakat adalah orang-orang sekitar lahan gambut dan orang yang lebih cepat mengetahui jika terdapat kebakaran gambut di daerah mereka.
    (3) Memantau aktivitas sekitar lahan dan hutan, terutama di daerah rawan kebakaran melalui patroli harian. Bentuk kerja ini dapat dilakukan secara gotong royong pihak kepolisian, Manggala Agni dan MPA bersama masyarakat.
    (4)  Menyebarkan informasi larangan membakar lahan gambut terutama di musim kemarau, terutama dari lembaga kuat secara hukum, Misalnya dari kepolisian dll
    (5)  Menyediakankan alat pemadam kebakaran dan dipastikan alatnya berfungsi dengan baik.
    (6) Memasyarakatkan teknik-teknik ramah lingkungan pada masyarakat. Salah satu tekniknya adalah teknik zero burning (teknik tanpa bakar) yaitu, sebuah metode pembersihan lahan dengan cara melakukan penebangan jenis pohon hutan, baik hutan primer, hutan sekunder maupun tanaman perkebunan yang sudah tua (misalnya kelapa sawit) dengan dipotong atau dicabik kecil, lalu ditimbun dengan dan ditinggalkan di lahan tersebut agar terdekomposisi secara alami. Metode ini tidak menyebabkan polusi udara, peningkatan gas rumah kaca (GHG), pencucian tanah, meningkatkan kesuburan tanah dan meminimalkan dampak air aliran permukaan tanah (run off) sehingga mencegah terjadinya erosi (ASEAN Secretariat, 2003).
    Melalui langkah-langkah di atas diharapkan kebakaran gambut dapat dicegah sehingga Indonesia terhindar dari bencana kabut asap dan restorasi gambut yang sedang diusahakan memberikan hasil yang maksimal.


    Daftar Pustaka

    Afriyanti, D., Kroeze, C. and Saad, A. (2016) ‘Indonesia Palm Oil Production Without Deforestation and Peat Conversion’, Science of the Total Environment, 557–558, pp. 562–570.
    ASEAN Secretariat, 2003. Guidelines for the implementation of the ASEAN policy on zero burning. The ASEAN Secretariat Jakarta.
    Bispo, D. F. A. et al. (2016) ‘Hydrology and Carbon Dynamics of Tropical Peatlands from Southeast Brazil’, Catena, 143, pp. 18–25.
    Evans, C. D. et al. (2019) ‘Rates and Spatial Variability of Peat Subsidence in Acacia Plantation and Forest Landscapes in Sumatra, Indonesia’, Geoderma, 338, pp. 410–421.
    Gunawan, Haris, Bambang S., Abdul K.M. 2017. Panduan Teknis Pemantauan Tinggi Muka Air Lahan Gambut Sistem Telemetri. Badan Restorasi Gambut Republik Indonesia. Jakarta.
    Hayasaka, H. et al. (2014) ‘Peat-fire-related Air Pollution in Central Kalimantan, Indonesia’, Environmental Pollution, 195, pp. 257–266.
    Kirana, A. P., Sitanggang, I. S. and Syaufina, L. (2016) ‘Hotspot pattern distribution in peat land area in Sumatera based on spatio temporal clustering’, Procedia Environmental Sciences, 33, pp. 635 – 645.
    Miettinen, J., Shi, C. and Liew, S. C. (2010) ‘Two Decades of Destruction in Southeast Asia’s Peat Swamp Forests’, Frontiers in the Ecology and The Environment, 10, pp. 124–128.
    Mubekti (2011) ‘Studi Pewilayahan Dalam Rangka Pengelolaan Lahan Gambut Berkelanjutan Di Provinsi Riau’, Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia, 13(2), pp. 88–94.
    Noor, M. (2010) Lahan Gambut: Pengembangan, Konservasi dan Perubahan Iklim. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
    Noor, M. (2016) Debat Gambut: Ekonomi, Ekologi, Politik, dan Kebijakan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
    Setiadi (1999) Masalah dan Prospek Pemanfaatan Gambut. Jakarta: BPPT.
    Suryana. A. 2007. “Arah dan Strategi Pengembangan Sagu di Indonesia.” Dalam Lokakarya Pengembangan Sagu di Indonesia, Batam, Disunting oleh E. Karmawati, N. Hengky, M. Syakir, A. Wahyudi, M.H. Bintoro, dan N. Haska, 1–13. Batam: Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan.
    Wibowo, A., Sloterdijk, H. and Ulrich, S. P. (2015) ‘Identifying Sumatran Peat Swamp Fish Larvae Through DNA Barcoding, Evidence of Complete Life History Pattern’, Procedia Chemistry, 14, pp. 76 – 84.


    PENULIS:
      
    Maryani (Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Kehutanan UGM Yogyakarta)
    Kontak: maryani.bio2010@gmail.com

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad