Riau Biru

  • Breaking News

    Riau bebas titik api dalam 24 jam terakhir (LAPAN, 17 Mei 2019, data pukul 13.15 WIB) --- 11 stasiun ISPU KLHK di Provinsi Riau seluruhnya tunjukkan kualitas udara berada pada level hijau/sangat sehat (data tanggal 17 Mei 2019)

    Pelibatan Masyarakat Tempatan Kunci Keberhasilan Restorasi Gambut

    Pelibatan Masyarakat Dalam Pembuatan Sumur Pantau Tinggi Muka Air Gambut di Desa Lukun, Kepulauan Meranti, Riau Pada tahun 2018. Foto: Dokumentasi Pribadi
    Ekosistem gambut mulai gencar dibicarakan orang sejak sepuluh tahun terakhir, ketika dunia mulai menyadari bahwa sumber daya alam ini tidak hanya sekedar berfungsi sebagai pengatur hidrologi, sarana konservasi keanekaragaman hayati, tempat budidaya dan sumber energi tetapi juga memiliki peran yang lebih besar lagi dalam perubahan iklim global karena kemampuannya dalam menyerap dan menyimpan cadangan karbon dunia. Kawasan hutan gambut Indonesia dikenal dengan sebutan salah satu negara yang memiliki kawasan hutan gambut terluas di dunia. Indonesia sendiri menyumbang 47% dari luas lahan gambut tropis dunia, membuatnya menjadi negara pemilik gambut terbesar di kawasan Asia Tenggara (Badan Restorasi Gambut RI, 2016). Luas lahan gambut di Indonesia diperkirakan 20,6 juta ha atau sekitar 10,8 % dari luas daratan Indonesia (Subago, 1998; Wibowo dan Suyatno, 1998 dalam Wahyunto et al, 2004; Herman, 2016).

    Riau mempunyai lapisan gambut terdalam di dunia, yaitu mencapai 16 meter terutama di wilayah Kuala Kampar (Anonimous, 2006). Namun demikian selama dua dasa warsa terakhir, konversi lahan gambut terutama menjadi lahan pertanian, perkebunan kelapa sawit dan kayu kertas (pulp wood) diperkirakan telah merusak lahan gambut dengan segala fungsi ekologisnya. Di pihak lain Lahan gambut merupakan suatu ekosistem yang unik dan rapuh, karena lahan ini berada dalam suatu lingkungan rawa, yang terletak di belakang tanggul sungai. Pembukaan lahan gambut melalui penebangan hutan (land clearing) dan drainase yang tidak hati-hati akan menyebabkan penurunan permukaan (subsiden) permukaan yang cepat, pengeringan yang tak dapat balik (irreversible drying), dan mudah terbakar. Potensi gambut yang sangat besar di wilayah ini perlu dikelola secara arif sehingga dapat memberikan nilai tambah tanpa merusak fungsi alami lahan gambut itu sendiri. Pengelolaan gambut yang menyelaraskan antara fungsi ekonomi dan fungsi ekologi akan memberikan dampak positif dalam pembangunan yang berwawasan lingkungan. Dalam rangka perencanaan dan pemanfaatan lahan gambut yang lestari perlu adanya pewilayahan yang didasarkan pada daya dukung lingkungan. 

    Masyarakat di lahan gambut hidup dalam ekosistem yang rapuh. Lahan gambut memiliki fungsi sosial dan ekonomi yang tidak mungkin dapat dipinggirkan. Di dalam kawasan lahan ini, terdapat masyarakat yang harus meneruskan hidup dan mencari penghidupan yang layak dengan segala macam norma yang telah mereka lakukan. Akibatnya, sebagian masyarakat dengan sadar atau terpaksa harus melakukan eksploitasi lahan yang lebih luas lagi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Mereka dapat dengan mudah mengikuti arus untuk merambah hutan, menebang kayu dan kegiatan-kegiatan lain yang secara dapat mendatangkan penghasilan namun berpotensi merusak ekosistem gambut. Namun, ekosistem tersebut memiliki peran penting bagi lingkungan, terutama dalam mengendalikan perubahan iklim dunia. Sepanjang Juni sampai dengan November 2015 terjadi kebakaran hutan dan lahan di Indonesia yang menurut World Bank ditaksirkan kerugian mencapai Rp. 221 triliun (Badan Restorasi Gambut, 2016). Penyebab utama kebakaran tersebut disinyalir dilakukan secara sengaja oleh oknum perusahaan perkebunan dan masyarakat. Oleh karenanya, diperlukan konsep dan metode pemberdayaan bagi masyarakat di lokasi tersebut beorientasi pada upaya konservasi lahan gambut. Tujuannya, agar ekosistem yang rapuh ini dapat tetap menopang kehidupan masyarakat secara layak dan berkesinambungan, sementara masyarakat dengan penuh kesadaran mampu menjaganya dari proses pengerusakan.

    Memberdayakan masyarakat di lahan gambut memang bukan sesuatu hal yang mudah. Permasalahan yang umumnya dihadapi antara lain lokasi yang umumnya sulit dijangkau, keterbatasan akses masyarakat terhadap layanan pemerintah, layanan permodalan, layanan informasi, dan pengembangan pasar. Tenaga praktisi sering pesimis menghadapi marjinalnya sumber daya alam di kawasan lahan gambut. Kondisi tersebut sering menciptakan masyarakat apatis yang meyakini bahwa kemiskinan merupakan suratan, sehingga mereka hanya perlu bertahan untuk hidup atau pasrah. Masyarakat semacam ini membutuhkan pendekatan yang dapat menumbuhkan dan membangkitkan semangat untuk hidup lebih baik dengan mengembangkan kapasitas dan kompetensi diri. Beragamnya kultur, kapasitas, dan tingkat kesadaran masyarakat memerlukan keragaman strategi pemberdayaan yang efektif.  Dimana startegi yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:

              1. Mulailah dari apa yang masyarakat miliki

    Memulai dari apa yang masyarakat miliki berarti menghargai apa yang mereka miliki. Hal ini bisa dibuktikan dengan menerima pandangan, pendapat, pengalaman, pengetahuan, atau memanfaatkan sumberdaya yang mereka miliki. Mereka mungkin tidak memiliki uang, tapi mereka memiliki pengetahuan, pengalaman, atau sumberdaya lain. Untuk itu, tampunglah dukungan yang bisa mereka berikan. Jangan menganggap remeh sumbangan mereka yang lebih kecil dibandingkan kebutuhan yang harus dipenuhi untuk mencapai hasil yang diharapkan. 

              2. Berlatih dalam kelompok

    Pendekatan kelompok dapat menjadi media atau sarana pembelajaran, berinteraksi untuk saling berbagi pengalaman, meningkatkan kepercayaan diri dan mitra usaha, serta sarana memupuk dan mengakses sumber modal.

              3. Pembelajaran dengan metode pendampingan kelompok

    Perpaduan antara faktor pelatihan, pendampingan, dinamika kelompok dan keterlibatan masyarakat perlu menjadi perhatian dalam penyusunan rencana pelaksanaan restorasi gambut agar pelaksanaannya tepat sasaran. Restorasi gambut perlu berjalan atas dasar antisipasi dampak sosial, ekonomi, lingkungan, yang tidak diinginkan masyarakat.  Persetujuan masyarakat terhadap rencana dan pelaksanaan restorasi adalah hal utama yang harus dipenuhi (Kristo dan Melano, 2017).

              4. Pelatihan khusus

    Pelatihan dapat dilakukan langsung oleh lembaga pemberdayaan dengan merekrut masyarakat yang berpotensi dan berminat dari beberapa desa. Alternatif lainnya, pendamping dapat melakukan mediasi antara masyarakat dengan intansi terkait yang memiliki program pelatihan seperti Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Dinas Kehutanan, Dinas Perkebunan, dan Dinas Perindustrian.

              5. Mengangkat kearifan budaya lokal

    Masyarakat adalah garda terdepan. Jadi mereka harus terlibat aktif didalam kegiatan restorasi gambut. Sebagai contoh, dalam ritual upacara sebelum membuka lahan atau akan menanam terdapat ungkapan puja dan puji kepada Tuhan agar tanamannya bisa subur dan menghasilkan panenan yang banyak. 

              6. Bantuan sarana

    Untuk memperkuat kemampuan masyarakat dalam meningkatkan keberdayaannya, seringkali diperlukan pemberian bantuan berupa sarana seperti modal stimulan dan sarana konservasi lahan. Diperlukan strategi khusus agar pemberian bantuan dalam bentuk sarana semacam ini betul betul sesuai dengan kebutuhan dan mampu mendorong proses pemberdayaan.

              7. Kerjasama dan dukungan banyak pihak

    Upaya restorasi gambut memerlukan kerjasama dan dukungan banyak pihak. Mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, akademisi, kelembagaan adat, kelompok masyarakat sipil, dan masyarakat secara keseluruhan (Loen, 2017). Salah satu prasyarat untuk komitmen jangka panjang adalah adanya sumber dana yang berkelanjutan (sustainable funding). Dana tersebut nantinya digunakan untuk mendukung rencana pembangunan strategis provinsi terkait dengan mata pencaharian dan kesejahteraan rakyat, perubahan iklim (mitigasi, adaptasi/ketahanan dan energi terbarukan), pengelolaan lansekap berkelanjutan, jasa lingkungan, perlindungan keanekaragaman hayati dan konservasi ekosistem  (Ratya, 2017).

    PENULIS:
      
    Khairul Mukmin Lubis (relawan Generasi Muda Peduli Desa Gambut Terintegrasi tahun 2018)
    Kontak: kmukmin852@gmail.com

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad