Riau Biru

  • Breaking News

    Riau bebas titik api dalam 24 jam terakhir (LAPAN, 17 Mei 2019, data pukul 13.15 WIB) --- 11 stasiun ISPU KLHK di Provinsi Riau seluruhnya tunjukkan kualitas udara berada pada level hijau/sangat sehat (data tanggal 17 Mei 2019)

    LIPUTAN KHUSUS: Pelatihan Revegetasi Di Kawasan Giam Siak Kecil-Bukit Batu Bersama Masyarakat Desa Sepahat

    Dalam rangka memulai serangkaian kegiatan penanaman lokasi bekas terbakar di kawasan GSK-BB, WWF taja pelatihan revegetasi bagi kelompok MPA di Desa Sepahat

    Foto bersama peserta pelatihan revegetasi unutk kelompok MPA di Desa Sepahat pada tanggal 29 April 2019. Foto: Dokumentasi WWF
    Kebakaran lahan dalam satu dekade terakhir dan praktek tata kelola lahan gambut yang salah telah menyebabkan rusaknya tutupan alami lahan gambut di banyak wilayah. Tutupan tersebut padahal sangat menentukan tingkat kerawanan lahan gambut terhadap kejadian kebakaran disamping faktor tinggi muka air tanah. Untuk itu, mengembalikan lahan gambut ke keadaan alaminya yang tertutupi vegetasi merupakan salah satu prioritas dalam aksi restorasi gambut.

    Badan Restorasi Gambut Republik Indonesia (BRG RI) telah menetapkan prioritas lokasi di setiap Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) untuk memastikan implementasi retorasi berjalan dengan efektif dan efisien. Diantara lokasi  prioritas tersebut adalah wilayah pasca kebakaran tahun 2015, baik yang terjadi pada area berizin maupun tidak berizin, berada pada kubah gambut maupun tidak, dan berkanal maupun tidak berkanal. Wilayah tersebut dapat diusulkan menjadi kawasan budidaya ataupun kawasan lindung. WWF Indonesia selaku pihak yang menaruh perhatian besar pada aksi penyelamatan ekosistem  kemudian ambil bagian dalam mensukseskan restorasi di lokasi prioritas tersebut seperti yang telah di Bengkalis tahun 2017.

    Revegetasi melalui pemberdayaan MPA

    Desa Sepahat merupakan salah satu desa paling terdampak kebakaran tahun 2014-2015. Sebagai salah satu desa terluas di Kecamatan Bandar Laksamana Kabupaten Bengkalis, pemerintah desa dan masyarakat harus bekerja ekstra untuk memastikan malapetaka 4 tahun tersebut tidak terulang lagi di desanya. WWF Indonesia kembali membangun komunikasi dan memperkuat kemitraan pemberdayaan masyarakat dengan Desa Sepahat pada awal September 2018 lalu. Berdasarkan hasil sejumlah pertemuan dengan jajaran pemerintahan desa, Masyarakat Peduli Api (MPA), dan pihak terkait lainnya, disepakati kegiatan penanaman kembali (revegetasi) lahan gambut seluas 15 hektar dilaksanakan di Desa Sepahat pada tahun 2019 disamping berbagai kegiatan pemberdayaan lainnya seperti pelatihan sekat kanal dan penggunaan teknologi deteksi dini.

    Lihat jugaLanjutkan Pemberdayaan Pencegahan Karhutla di Bandar Laksamana, Tim Relawan WWF-PSB Sambangi Desa Sepahat

    Pasca penjajakan dan penggalangan persetujuan administratif dan non administratif, WWF Indonesia menggelar pelatihan kegiatan revegetasi di Desa Sepahat pada tanggal 29-30 April 2019. Narasumber dihadirkan dari Pusat Studi Bencana LPPM UNRI yang merupakan mitra kerja WWF dalam kegiatan di Bengkalis, camat dan jajaran pemerintahan Kecamatan Bandar Laksamana, penggiat revegetasi dari Siak dan desa sekitar, kepala desa Sepahat, dan anggota MPA dari lima desa intervensi WWF (Sepahat, Tanjung Leban, Api Api, Tenggayun, dan Buruk Bakul. MPA sendiri merupakan komponen masyarakat yang sejak awal menjadi tujuan utama pemberdayaan dan peningkatan kapasitas pencegahan kebakaran oleh WWF dalam 3 tahun terakhir.

    Peta lokasi revegetasi seluas 15 hektar di Desa Sepahat. Foto: Dokumentasi WWF

    Samsul Komar, perwakilan WWF Sumatra Tengah dalam sambutannya menyampaikan bahwa tujuan pelatihan tersebut adalah sebagai sarana berbagi informasi terkait teknik-teknik penanaman kembali, memperbaharui pengetahun tentang jenis tanaman ramah gambut, dan meningkatkan keterampilan pembibitan dan perawatan lahan dan tanaman pasca kegiatan revegetasi. Samsul menambahkan, revetasi di Desa Sepahat tersebut merupakan bagian dari kerangka besar misi WWF untuk melestarikan kawasan konservasi berbasis gambut Giam Siak Kecil – Bukit Batu (GSK-BB). 

    MPA Sepahat melalui badan koperasinya yang diketuai Abu Bakar mendapat mandat untuk mengelola langsung area penanaman yang berlokasi di Jalan Budi Indah tersebut.  Pemilihan lokasi merujuk pada peta Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Riau yang disahkan pada tanggal 2 Mei 2018. Berdasarkan data tersebut, lahan restorasi revegetasi tersebut merupakan lahan gambut dari tanah masyarakat yang dialokasikan untuk tujuan lain (Areal Penggunaan Lain/APL). Direncanakan pada bulan Juni tahun ini, Abu Bakar bersama 20 orang anggotanya akan mulai efektif bekerja menanam sekitar 6000 bibit lokal kawasan GSK-BB yang dialokasikan oleh WWF.

    Apresiasi dan dukungan jajaran pemerintahan setempat

    Sementara itu kepala desa Sepahat Muhammad Azlan, kembali menyampaikan apresiasi positif atas program yang ditaja oleh WWF. Beliau mengharapkan adanya keseriusan dalam pelaksanaan program tersebut seiring dengan rencananya untuk menjadi program revegetasi tersebut sebagai proyek percontohan bagi kegiatan serupa di tempat lainnya. Muhammad Azlan juga mengutip konsep wisata alam untuk menggambarkan harapannya agar lokasi revegetasi mampu memberikan insentif ekonomi pada anggota MPA dan masyarakat desanya.

    Apresiasi positif terhadap WWF dan program revegetasinya kembali datang kali ini dari jajaran pemerintahan Kecamatan Bandar Laksamana. Kasi Trantib Dedi Syafrizal mengatakan bahwasanya pihaknya bangga salah satu desa di wilayahnya terpilih sebagai lokasi revegetasi. Sementara itu Camat Bapak Afrizal yang menyempatkan hadir pada akhir acara menyampaikan kegiatan revegetasi tersebut merupakan model kerjasama yang sangat baik antara WWF dan masyarakat terdampak karlahut untuk mencegah Indonesia agar tidak lagi "mengekspor" asap ke negara tetangga seperti pada beberapa tahun sebelumnya. Beliau memaparkan capaian desa-desa di kecamatannya yang terus mengalami penurunan dalam kejadian karlahut berkat kontribusi para pihak, termasuk WWF.

    Pengayaan pengetahuan tentang vegetasi ramah gambut

    Pembicara ahli pertama dalam pelatihan ini adalah Dr. Nurul Qomar, M.Hut seorang pakar kehutanan Universitas Riau yang juga berkecimpung sebagai tenaga ahli Pusat Studi Bencana UNRI. Beliau berpengalaman dalam melaksanakan kegiatan penanaman kembali di lahan gambut yang terdegradasi di banyak tempat di Provinsi Riau. Nurul Qomar mengawali presentasinya dengan menampilkan potensi lahan gambut di kawasan GSK-BB yang mencapai 50.58% (dari luas cagar biosfer) dan kedalamannya mencapai lebih dari 4 meter. Lahan gambut di Bengkalis dibagi kedalam 6 KHG dan hari ini lahan gambut tersebut terancam oleh regulasi dan pratik tata kelola yang tidak tepat dalam bentuk kanalisasi dan alih fungsi tutupan lahan oleh perusahaan hutan tanaman industri dan perkebunan.

    Dalam uraian lanjutannya, dijelaskan bahwa revegetasi merupakan satu dari tiga komponen metode aksi restorasi BRG RI yaitu: rewetting (pembasahan kembali), revegetation (penanaman kembali), dan revitalisation (pemberdayaan masyarakat). Alternatif pelaksanaan revegetasi lahan gambut bekas terbakar terbagi atas agroforestri dan paludikultur. Paludikultur dilakukan dengan membudidayakan tanaman yang adaptif terhadap lahan basah atau tahan genangan sehingga tidak memerlukan pengeringan.

    Nurul Qomar menjabarkan penanaman dilakukan di lahan dengan ketebalan gambut 2-3 meter dengan pilihan variasi hingga 7 jenis komoditas, diantaranya:
    1. Komoditas penghasil pangan (buah. pati, protein, bumbu, minyak, lemak): Asam Kandis; Kerantungan, Pepaken, Mangga Kasturi, Mangga Kuini, Rambutan, Nipah Kelakai, dan Tengkawang.
    2. Komoditas penghasil serat (pulp, kertas): Geronggang; Terentang; Gelam.
    3. Komoditas sumber bio-energi: Gelam, Sagu
    4. Komoditas penghasil getah: Jelutung; Nyatoh; Sundi
    5. Komoditas sumber obat: Akar Kuning; Pulai
    6. Komoditas hasil hutan bukan kayu lainnya: Gaharu; Gemor/Medang; Purun Tikus; Rotan Irit
    7. Komoditas kayu bernilai konservasi: Ramin; Meranti Merah

    Dalam uraian lanjutannya, Nurul Qomar menawarkan berbagai model revegetasi yang menyesuaikan kondisi biofisik lahan gambut yang pernah diterapkan di beberapa lokasi di Indonesia. Di Desa Sei Pantai misalnya, gambut tipis sulfat masam ditanami Rambutan dan Purun. Di Kalampangan - Palangkaraya, gambut tebal dengan drainase ditanami Jelutung dan Sayur-sayuran. Di Provinsi Riau sendiri, terdapat model campuran Jelutung dan Geronggang yang ditanami Desa Tanjung Leban - Bengkalis dan model campuran sagu dan tanaman kayu (selumar, resak, punak, geronggang, leban) di Desa Sendanu Darul Ihsan - Kepulauan Meranti.

    Mengasah keterampilan revegetasi dari kelompok tani berpengalaman

    Pembicara ahli kedua didatangkan dari Kelompok Tani Hutan Restorasi Ekosistem Gambut Desa Temiang, Kecamatan Bandar Laksamana. Adi Surya, salah seorang tenaga pembibit tanaman kayu hutan sekaligus ketua dari kelompok tani tersebut menerangkan teknik pembibitan tanaman ramah gambut. Keterampilan ini bertujuan untuk membantu mempercepat perkembangbiakan yang terancam melalui intervensi manusia sekaligus meningkatkan kemampuan identifikasi jenis tanaman ramah gambut bagi masyarakat tempatan.

    Jenis-jenis bibit yang dibudidayakan Adi Surya dan kelompok taninya di Desa Temiang. Kiri ke kanan. Atas: Dara-Dara; Geronggang, Kelat Merah. Bawah: Pasir-pasir, Pisang-pisang, Ramin. Foto: Kamaluddin/PSB LPPM UNRI

    Penyiapan lahan yang bersih dari semak belukar merupakan langkah pertama dengan tujuan mempermudah pengisian tanah dan penyemaian biji ataupun anakan pohon ke media polybag berukuran 10x15 cm. Pupuk kandang berupa kotoran ayam merupakan campuran yang biasanya digunakan Adi Surya dalam pengisian tanah ke dalam polybag tersebut. Biji dapat dimasukkan langsung ke polybag dan harus rutin disirami dan diberikan pupuk. Sedangkan bibit yang sudah berkecambah atau anakan pohon sebelum dimasukkan, akarnya harus dipotong sedikit terlebih dahulu dengan tujuan memudahkan pembibit ketika bibit tersebut dimasukkan ke dalam polybag.

    Adi Surya menambahkan jenis kayu yang biasa dibudidayakan oleh kelompoknya adalah Ramin, Mentangor, Meranti, Suntai, Balam dan Geronggang yang kesemuanya diambil langsung dari hutan. Sejumlah tantangan ditemui dalam proses budidaya tanaman-tanaman tersebut seperti Ramin yang bibitnya hanya ditemukan 3-4 tahun sekali dan Geronggang yang bibitnya mudah hancur dan jarang ditemui.

    Praktik lapangan dan inisiasi kegiatan revegetasi

    Pelatihan dilanjutkan dengan penanaman perdana beberapa bibit pohon di lahan revegetasi program WWF di Desa Sepahat pada hari kedua sekaligus secara simbolik memulai rangkaian kegiatan revegetasi. Pada kesempatan ini hadir perwakilan Dinas Lingkungan Hidup Bengkalis, Kesatuan Penelola Hutan (KPH) Dinas Pertanian dan Perkebunan, Camat Bandar Laksamana, Pemerintah Desa Sepahat, Perwakilan MPA dari 5 desa intervensi, perwakilan kelompok Bina Cinta Alam Siak, dan masyarakat desa Sepahat.

    Penanaman perdana bibit kayu alam endemik hutan gambut GSK-BB oleh peserta pelatihan revegetasi. Foto: Dokumentasi WWF Indonesia
    Adapun jenis bibit kayu pada penanaman perdana ini adalah Ramin (Gonystylus bancanus), Kelat (Syzguym sp), Geronggang (Cratoxylum celebicum), Meranti (Sorea sp) dan Gaharu (Aquilaria malaccensis).

    Devindra Oktaviano 
    devin.oktaviano@outlook.com

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad