Riau Biru

  • Breaking News

    Riau bebas titik api dalam 24 jam terakhir (LAPAN, 1 April 2019, Diakses pukul 13.00 WIB) --- BNPB imbau masyarakat Riau untuk siaga antisipasi karhutla seiring dengan masuknya musim kemarau pada April ini --- Riau Biru menerima tulisan dari pemirsa dengan tema lingkungan hidup hingga 24 Mei 2019. Tulisan berkisar 550 hingga 850 kata dan dikirimkan pada email Riau Biru

    Tinjauan Atas Kebakaran Lahan di Desa Sepahat - Bengkalis, Pada 12-14 Maret 2019

    Kondisi lahan pasca kebakaran yang menghanguskan 2 hektar lahan perkebunan di Desa Sepahat pada 12 Maret lalu. Foto: Zainuddin / WWF Indonesia

    Desa Sepahat di Kabupaten Bengkalis, Riau, dilanda kebakaran lahan pada Selasa, 12 Maret lalu. Desa yang berlokasi di Kecamatan Bandar Laksamana ini memang memiliki histori kebakaran hutan dan lahan yang masif pada beberapa tahun sebelumnya terutama pada tahun 2014-2015. Luas desa yang besar dan keberadaan lahan kosong terlantar merupakan penyebab tingginya tingkat kerawanan kebakaran di desa tersebut.

    Kronologi kebakaran bermula dari aktivitas tiga orang pemuda yang mencari madu di kebun karet milik Udin, warga desa setempat. Pada pukul 10.00 mereka mulai membuat perapian dan tunam (obor api) yang biasanya terbuat dari bambu dan dedaunan, Teknik tradisional ini digunakan untuk menjauhkan lebah dari bongkahan madu di pohon karet. Namun, ketiganya kemudian diduga lupa mematikan sisa-sisa bunga dan bara api dari peralatannya saat meninggalkan lokasi pada pukul 12.00. Para pemuda tersebut sempat berpapasan dengan anggota MPA (Masyarakat Peduli Api) Desa Sepahat yang sedang menggelar patroli rutin dan bahkan menawarkan anggota MPA tersebut untuk mencicipi madu yang telah mereka ambil. Patroli MPA saat itu belum menemukan tanda-tanda mencurigakan atau keadaan awal yang berpotensi menyebabkan kebakaran.

    Sejam kemudian pada pukul satu siang, asap mulai membumbung dari sebuah lokasi dan pengamatan dari menara BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Desa Sepahat juga memastikan terpantau kepulan asap di sekitar Jl. Jenderal Sudirman RT.02 RW 01 Dusun Murni. Pihak kepolisian selanjutnya mencatat titik kebakaran tersebut berada pada koordinat 01°33’0” (N) dan 101°52’55” (E). 


    MPA Sepahat yang diketuai oleh Abu Bakar dengan sigap berkoordinasi dengan pihak kepolisian, BNPB (Manggala Agni), Regu Pemadam Kebakaran (RPK) PT. Bukit Batu Hutani Alam (BBHA), dan TNI agar tindakan komprehensif bisa segera diambil. Proses pemadaman dimulai dengan pembuatan perimeter berupa lubang galian yang bertujuan menghambat rambatan api agar tidak mencapai lahan atau kebun di sekitarnya. PT. BBHA memberikan dukungan teknis dengan mengerahkan alat berat untuk membuat parit-parit tersebut. Keseluruh pihak di atas kemudian bersama-sama menyiramkan air secara bertahap dari tepi hingga ke pusat kebakaran.


    MPA Sepahat dilengkapi dengan berbagai fasilitas pemadaman utama diantaranya pompa air besar Mark3, pompa air kecil Ministrike, dan selang yang merupakan bantuan dari pihak WWF Indonesia. Alat-alat tersebut berfungsi dengan sangat baik dan mampu berkontribusi besar dalam melaksanakan pemadaman berdasarkan keterangan perwakilan WWF Indonesia yang turut berpartisipasi dalam kegiatan pemadaman tersebut. MPA Sepahat sendiri menurunkan seluruh personelnya yang berjumlah dua puluh orang untuk membantu penanggulangan kebakaran tersebut.

    Ketua MPA Desa Sepahat, Abu Bakar, melaksanakan pemadaman lanjutan di lokasi kebakaran. Foto: Zainuddin / WWF Indonesia
    Selama proses pemadaman, ditemukan peralatan pengambilan madu di lokasi kebakaran yang berpotensi menjadi bukti penyebab terjadinya kebakaran. Kepolisian Sektor Bukit Batu kemudian mengambil tindakan memasang garis polisi di lokasi ditemukannya bukti tersebut dan mulai menggelar proses penyelidikan dan penyidikan. Informasi terakhir diketahui para pencari madu tersebut melarikan diri karena ketakutan.

    Pemadaman dengan strategi serupa kembali dilaksanakan bersama-sama pada Rabu (13/03). Sisa-sisa api kecil dan bubungan asap disiram dengan air hingga dipastikan tidak ada lagi nyala api. Esoknya,  Kamis (14/03) dilakukan pendinginan yang bertujuan untuk mematikan potensi munculnya api di tempat yang sama dalam waktu dekat. Lahan bekas terbakar kembali disiram dan dilakukan survei ke titik-titik yang berpotensi kembali menginisiasi kebakaran. Proses memastikan pemadaman sudah total dan final dengan memeriksa kembali sisa-sisa kebakaran ini oleh warga lokal dikenal dengan istilah "lelesan".
      
    Spanduk informasi wilayah penyelidikan dan penyidikan polisi terpasang di lokasi kebakaran lahan di Sepahat. Foto: Zainuddin/WWF Indonesia

    Kendala utama yang muncul di lapangan adalah ketersediaan air yang sangat minim di beberapa titik. Lokasi kebakaran berada di tengah lahan yang yang jauh dari badan air berupa parit ataupun sekat kanal. Permasalahan tersebut telah diantisipasi dengan pembuatan sumur-sumur alternatif menggunakan bantuan alat berat. Lokasi sumur ini berada di kebun-kebun masyarakat dan digali lebih kurang 5 meter hingga air yang tertampung kemudian bisa dimanfaatkan untuk penyiraman. 

    Pengamatan di lapangan menunjukkan personil-personil yang berjibaku memadamkan api belum dilengkapi alat pelindung diri standar. Kedepannya fasilitas ini diharapkan bisa dipertimbangkan dan diakomodir oleh pihak-pihak terkait untuk meningkatkan keamanan dan profesionalitas para garda terdepan mitigasi kebakaran lahan tersebut.

    Salah satu sumur alternatif hasil eskavasi alat berat pada proses pemadaman kebakaran lahan di Sepahat. Foto: Zainuddin / WWF Indonesia
    Belum ada taksiran resmi total kerugian materil yang diakibatkan oleh bencana kebakaran tersebut, namun diketahui bahwa Bapak Ujang menderita kerugian 1,2 hektar kebun sawitnya yang terbakar dan Bapak Udin dengan 0,8 hektar kebun karetnya. Terlepas dari sejumlah keterbatasan dan tantangan di lapangan serta dampak negatif yang telah ditimbulkan, kolaborasi multi pihak pada proses penanggulangan kebakaran tersebut berhasil menahan luasan area terbakar pada sekitar dua hektar saja. Gerak cepat dan efektif yang berhasil menuntaskan pemadaman hanya dalam tiga hari bisa menjadi preferensi bagi pemangku kepentingan di wilayah lainnya yang rawan terhadap kebakaran, terlebih tahun ini diprediksi menjadi tahun terpanas dan berpotensi El Nino. 

    PENULIS:  
    Devindra Oktaviano (devin.oktaviano@outlook.com) & Zainuddin (zainuddin@wwf.id)                                    

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad