Riau Biru

  • Breaking News

    Riau bebas titik api dalam 24 jam terakhir (LAPAN, 1 April 2019, Diakses pukul 13.00 WIB) --- BNPB imbau masyarakat Riau untuk siaga antisipasi karhutla seiring dengan masuknya musim kemarau pada April ini --- Riau Biru menerima tulisan dari pemirsa dengan tema lingkungan hidup hingga 24 Mei 2019. Tulisan berkisar 550 hingga 850 kata dan dikirimkan pada email Riau Biru

    Perbaiki Tata Air Lahan Gambut, WWF dan Jikalahari Tambah Dua Sekat Kanal Baru di Batang Duku

    Perwakilan Jikalahari dan anggota MPA berfoto bersama saat finalisasi konstruksi sakat satu sekat kanal di Desa Batang Duku. Foto: Adam (Jikalahari)

    SUNGAI PAKNING (25/01) -
     
    Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari) pada pertengahan Januari lalu berhasil menuntaskan konstruksi dua unit sekat kanal di Desa Batang Duku, Kecamatan Bukit Batu, Bengkalis. Kegiatan ini merupakan bagian dari realisasi target program WWF Sumatra Tengah bersama mitra LSM untuk membangun tiga belas unit sekat kanal di kawasan Bukit Batu pada periode kerja 2018-2019. 

    Dibantu oleh Humendala FEB UNRI, anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) Desa Batang Duku membangun satu unit sekat kanal dengan lebar sekitar 3,5 meter di Dusun Kenanga dan satu unit lainnya dengan lebar yang sama di Dusun Pulai Bungkuk. 

    Sekat kanal tersebut membutukan 4-5 hari pengerjaan dengan jumlah pekerja sebanyak 5 orang. Tahap pendahuluan konstruksi berupa survei kesiapan lokasi dan sosialisasi kegiatan pembangunan telah dilaksanakan oleh WWF dan relawan PSB sejak awal rangkaian kegiatan pada September 2018 lalu.

    Kepala Desa Batang Duku, Sapri, yang juga menyempatkan diri hadir dalam proses kontruksi menghaturkan terima kasih kepada pihak WWF dan Jikalahari atas bantuan fasilitas pencegahan kebakaran di desanya. "Terima kasih kepada WWF dan Jikalahari yang terus membantu mensosialisasikan pencegahan dan penanganan karlahut, saya harap kepada masyarakat desa bisa menjaga sekat kanal yang telah terbangun ini" ujar Sapri dihadapan perangkat desa, MPA, babinsa, kelompok PKK, dan masyarakat sekitar yang diundang untuk memantau hasil pembangunan.

    Spesialis restorasi gambut WWF Sumatra Tengah, Samsul Komar, pasca observasi langsung ke salah satu sekat kanal pada Kamis (24/01) kemarin menyampaikan apresiasi positifnya terhadap hasil pembangunan oleh MPA Desa Batang Duku tersebut. "Sekat kanal yang dibangun sudah memenuhi kriteria dan spesifikasi yang diharapkan dan (sekat kanal tersebut) berfungsi sebagaimana mestinya" sebut Samsul sambil menakar perbedaan ketinggian air di hulu dan hilir sekat kanal. 

    Kedua unit sekat kanal dibangun permanen dengan menggunakan material cor beton di kanal/parit buatan yang telah ada (existing canal). Dalam pelatihan sekat kanal yang diselenggarakan oleh WWF pada Oktober lalu, anggota MPA seluruh mitra LSM selalu pelaksana konstruksi diminta untuk memenuhi standar teknis pembangunan sekat kanal seperti lebar sayap yang menjorok minimal 80 cm dari tepi kanal ke daratan di sisi kanan-kiri kanal, penyesuaian lebar laluan air dengan debit air dan penggunaan jenis material pelapis berkualitas tinggi yang tahan bocor.

    Batang Duku merupakan salah satu desa bergambut yang juga terdampak sejumlah kebakaran pada beberapa tahun yang lalu. Desa yang juga baru berdiri secara administratif ini sudah mendapat alokasi dua sekat kanal baru dari WWF sebagai bagian dari komitmen untuk membasahkan kembali lahan gambut  di kawasan Giam Siak Kecil - Bukit Batu melalui peningkatan tinggi muka air tanah. Sejak kegiatan dimulai pada emapt bulan lalu, WWF telah membangun 11 unit sekat kanal di wilayah Kecamatan Bukit Batu dan Kecamatan Bandar Laksamana.

    Devindra Oktaviano 
    devin.oktaviano@outlook.com

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad