Riau Biru

  • Breaking News

    Sungai Mengkuang, Potensi Ekowisata Hutan Gambut Suaka Margasatwa Kerumutan

    Sungai Mengkuang, surga tersembunyi Suaka Margasatwa Kerumutan. Foto: Mapala Oasis
    Sungai Mengkuang, mungkin bagi banyak orang nama ini sangat terdengar asing di telinga. Sungai Mengkuang sendiri adalah nama sebuah sungai kecil yang terdapat di perbatasan kawasan Suaka Margasatwa Kerumutan bagian selatan. Nama Sungai Mengkuang sendiri berasal dari tumbuhan Pandan Mengkuang (Pandanus atrocarpus Griff.) yang banyak ditemukan di tepian sungai ini. 

    Untuk menuju Sungai Mengkuang ini sendiri jika dimulai dari Kota Pekanbaru, maka pertama kita menggunakan transportasi darat menuju kota Rengat, ibukota Kabupaten Indragiri Hulu dengan waktu tempuh sekitar empat jam. Setelah tiba di Kota Rengat kita bisa langsung menuju Desa Kampung Pulau yang berada di seberang sungai kota Rengat dengan melewati Jembatan Trio Amanah yang menjadi ikon kota Rengat. Setelah itu perjalanan harus dilanjutkan menggunakan transportasi air berupa perahu bermotor karena kita akan menyusuri Sungai Sengkayan yang merupakan anak Sungai Indragiri. Butuh waktu satu jam untuk menyusuri sungai Sengkayan sampai akhirnya memasuki Sungai Batang Rengat yang juga bermuara ke Sungai Indragiri, baru setelah satu jam akan bertemu simpang untuk masuk ke Sungai Mengkuang. Sehingga total perjalanan menggunakan perahu motor yang dibutuhkan untuk mencapai Sungai Mengkuang adalah sekitar dua jam.

    Menyusuri Sungai Batang Rengat, sungai yang dilalui sebelum Sungai Mengkuang. Foto: Mapala Oasis
    Di Sungai Mengkuang sendiri masih terdapat aktivitas masyarakat yang mencari ikan di sungai tersebut. Salah satu cara yang digunakan masyarakat untuk mencari ikan adalah dengan menajur, yaitu pancing pendek yang sudah diberi umpan yang ditancapkan ditanah selama semalaman. Ikan yang didapat oleh masyarakat umumnya ikan lele jenis Clarias Nieuhofii atau oleh masyarakat setempat disebut sebagai ikan lembat. Biasanya masyarakat bermalam ketika mencari ikan disungai tersebut. Untuk tempat bermalam mereka menggunakan pondok yang mereka buat di tepi sungai. Jadi mereka memasang pancing tajur pada sore hari dan baru dilihat pada keesokan paginya.

    Ikan Lembat, sebutan masyarakat setempat bagi ikan lele jenis Clarias Nieuhofii di atas. Foto: Mapala Oasis
    Dibalik potensi perikanannya sebagai sumber penghidupan masyarakat, Sungai Mengkuang ternyata juga menyimpan potensi wisata yang sangat menarik, khususnya ketika memasuki musim penghujan. Ketika musim hujan tiba maka daratan yang ada disekitar Sungai Mengkuang akan tergenang air sehingga pepohonan di sekitar sungai mengkuang akan terlihat seperti tumbuh diatas air, pemandangan pun akan menjadi sangat eksotis. Dengan menyusuri Sungai Mengkuang secara perlahan kita akan begitu menikmati suasana yang sangat asri tersebut.

    Keasrian Sungai Mengkuang dengan barisan pepohonan di tepiannya. Foto: Mapala Oasis
    Jika beruntung ketika dalam perjalanan menuju Sungai Mengkuang kita akan melihat berbagai jenis burung yang sedang terbang maupun sedang bertengger diatas pohon. Ada burung yang kita temukan terbang sendiri dan ada juga burung yang bisa ditemukan secara berkelompok. Berbagai jenis burung bisa kita temukan disini, seperti burung rangkong, burung elang, dan burung gagak. Dan bahkan ketika cukup beruntung kita bisa menemukan burung elang yang sedang mengejar burung lain di udara.

    Burung yang saling berkejar-kejaran di udara. Foto: Mapala Oasis
    Di sepanjang sungai seolah-olah barisan pepohonan menyambut kita dan akan membuat kita sejenak lupa dengan hiruk pikuk kehidupan di kota. Hitamnya air gambut Sungai Mengkuang juga akan membuat suasana begitu berbeda tidak seperti sungai pada umumnya yang jernih ataupun keruh. Beragam jenis pohon tumbuh disini, salah satunya adalah pohon beringin yang akarnya bisa kita gunakan sebagai tempat bersandar dan juga cocok untuk dijadikan spot berfoto. Satu hal lagi yang menambah keindahan Sungai Mengkuang adalah permukaan airnya yang memiliki lapisan tipis berwarna putih dan banyak dedaunan gugur yang berada di permukaan air tersebut tentu membuat suasana berbeda dengan kawasan perairan umumnya.

    Salah satu spot eksotisme Sungai Mengkuang. Foto: Mapala Oasis
    Ketika lelah menyusuri keindahan sungai dan sudah masuk waktu makan, kita bisa menepikan perahu dipepohonan tepi sungai. Setelah itu dilanjutkan dengan menikmati makan siang yang telah dibawa sebelumnya atau bisa juga memasak langsung di atas perahu. Kalau ingin beristirahat kita bisa membentang hammock diatas pepohonan. Setelah puas beristirahat maka selanjutnya kita bisa melakukan perjalanan untuk kembali pulang.

    PENULIS: Nanda Maretama 

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad