Riau Biru

  • Breaking News

    Profil MPA Desa Api Api: Laskar Api Lintas Parit

    Kantor Kepala Desa Api Api. Foto: Heri Irawan/WWFID
    Desa Api Api merupakan sebuah desa di Kecamatan Bandar Laksamana, Kabupaten Bengkalis yang berjarak sekitar 4,5 jam perjalanan darat dari Kota Pekanbaru. Desa tersebut terbentang memanjang dari perbatasan Kecamatan Pinggir hingga Selat Bengkalis dan berbatasan dengan Desa Tenggayun di utara dan Desa Parit 1 Api Api di selatan. Desa berpenduduk sekitar 1.564 jiwa ini sekarang dipimpin oleh kepala desa Bapak Edi Ferizal.

    Situs web resmi pemerintah Desa Api Api

    Sejarah dan Kelembagaan

    Pada tahun 2014, kepala desa Api Api, Kharil Anwar mengeluarkan surat keputusan pendirian MPA Desa Api Api dengan ketua pertama adalah Bapak Kudin. Lembaga tersebut kembali membentuk formasi baru melalui SK Kades No.8 yang dikeluarkan pada tanggal 1 Maret 2016 dengan ketua MPA adalah Bapak Surya Kurniawan yang masih mengemban amanah tersebut hingga saat ini. Dalam menjalankan fungsinya, Surya dibantu oleh lima orang anggota yang terdiri atas 1 orang di bidang mekanik, 1 orang di bidang analisis, 1 orang di bidang pengadaan, dan 2 orang di bidang pemantau. Postur jumlah personil yang ramping ini menyesuaikan dengan wilayah patroli Desa Api Api yang tidak luas mengingat sebagian dari wilayah desa ini telah berada dalam konsesi perusahaan perkebunan PT. Bukit Batu Hutani Alam (BBHA).

    MPA Desa Api Api juga memiliki tambahan relawan dari masing-masing RT/RW sebanyak 7 orang. Berdasarkan keterangan Surya, struktur tambahan ini bertujuan untuk mengakomodasi rekomendasi pemerintah dan kebutuhan administratif dari PT. BBHA selaku mitra kerja MPA. Keduanya merekomendasikan setidaknya ada 10 orang anggota MPA di setiap desa rawan kebakaran.

    Operasional dan Fasilitas

    Desa Api Api merupakan salah satu lokasi kebakaran parah yang terjadi pada tahun 2014 di kawasan Bukit Batu, Bengkalis. Dengan demikian, patroli MPA menjadi krusial untuk mencegah kejadian yang sama terulang kembali. Dalam diskusi lanjutan dengan Bapak Surya, diketahui bahwa area patroli MPA-nya meliputi hutan dan lahan yang terbentang sekitar 2x4 km.

    Secara tradisional, masyarakat desa Api Api memakai sistem parit-parit untuk menandai batas kebun masyarakat maupun wilayah pemukiman. Hal yang sama juga diaplikasikan pada wilayah kerja patroli MPA-nya yang dibagi berdasarkan parit-parit, yaitu: Parit Aki Nor, Parit Talib, Parit Hamid, Parit Andak Atin, Parit Doget, Parit Api Api di perbatasan dengan Desa Temiang, serta Jalan Baru dan Sungai Sali di perbatasan dengan Desa Tenggayun.

    Patroli MPA dilaksanakan oleh dua orang setiap harinya. Desa mengalokasikan anggaran sebesar 20 juta Rupiah per tahunnya untuk operasional MPA. PT. BBHA juga menyokong insentif honor kepada setiap personil MPA dengan besaran 80 ribu Rupiah per orang per patroli. Disamping wilayah patroli yang tidak begitu luas, MPA Api Api lebih mudah mengambil langkah cepat penanggulangan kebakaran karena jalan desa sudah disemenisasi seluruhnya. Dalam pengalaman pemadaman kebakaran sebelumnya, masyarakat desa juga berpartisipasi dengan membantu menyediakan konsumsi bagi para anggota MPA.

    Sistem pelaporan kerja MPA Api Api tergolong rapi karena memiliki laporan hasil patroli yang mencakup uraian kegiatan dan uraian lokasi serta daftar hadir patroli yang rutin disusun dan dilaporkan. Laporan tersebut setiap bulannya ditandatangani oleh ketua MPA dan kepala desa selaku pembina. Kedua laporan di atas juga dilengkapi dengan laporan dokumentasi berupa foto.

    Peralatan operasional MPA Desa Api Api. Kiri atas: Ketua MPA Api Api menunjukkan dua unit alat pompa air yag berada di salah satu ruangan di gudang desa. Kiri bawah: Satu unit alat pompa air dan setumpuk selang. Kanan: Bantuan alat pemadam kebakaran lahan beserta selang bantuan kegiatan WWF tahun 2018. Foto: Devindra Oktaviano/PSB UNRI

    Kapasitas mitigasi kebakaran regu MPA Api Api ditunjang oleh beberapa alat bantuan dari pemerintah desa dan sejumlah pihak lainnya yang terdiri atas: 3 unit alat pompa air, 3 unit alat pemadam kebakaran, selang dan komponen pendukung lainnya, dan satu unit ponsel android untuk komunikasi.

    Pelatihan

    Demi meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pencegahan kebakaran, regu MPA Api Api telah mengikuti pelatihan yang ditaja oleh balai kehutanan provinsi di Kota Pekanbaru. Tahun 2016, MPA Api Api mengikuti pelatihan pembuatan sumur bor untuk perlindungan gambut yang diadakan oleh lembaga tane ranu dayak Kalimantan dan Riau Hijau. Pada tahun 2017, PSB UNRI menggelar pelatihan penggunaan Avenza Maps bagi sepuluh desa termasuk Desa Api Api. WWF memberikan pelatihan pembuatan sekat kanal pada Oktober 2018 di Buruk Bakul. Pemerintah Kabupaten Bengkalis melalui Dinas Pemadaman Kebakaran juga menggelar simulasi pemadaman kebakaran yang diikuti Desa Api Api di Sepahat pada akhir November lalu.

    Para regu peduli api dari Api Api ini tidak hanya berdedikasi dalam memantau dan memadamkan api saja, namun mereka juga punya andil dalam kegiatan pembasahan kembali (rewetting) lahan gambut di desanya melalui pembangunan 11 unit sekat kanal dengan rincian: 1 unit di Sungai Sali, 2 unit di Parit Nor, 2 unit di Parit Talib, 2 unit di Parit Hamid, 2 unit di Parit Aten, 1 unit di Parit Api Api, dan 1 unit di Parit Doget.



    Ketua dan anggota MPA Desa Api Api (bawah, ketiga dan keempat dari kanan) pasca mengikuti pelatihan pembuatan sekat kanal oleh WWF dan WALHI Riau pada Oktober lalu. Foto: Heri Irawan/WWFID

    Tantangan dan Harapan

    Dalam sejumlah kesempatan bersama MPA dan perangkat desa Api Api, diketahui bahwa mereka belum mengetahui batas persis desanya hingga saat ini mengingat desa hanya mempunyai peta sebatas sketsa. Pemetaan secara profesional berbasis koordinat baru direncanakan dimulai pada tahun 2019. MPA Api Api juga membutuhkan tambahan kelengkapan lapangan yang dirasa cukup vital namun belum dimiliki hingga saat ini, yaitu sepeda motor operasional dan alat pelindung diri.

    Sejak tahun 2015, kebakaran di Api Api menurun drastis hingga hanya skala kebakaran kecil di lahan perkebunan warga dengan luasan beberapa meter persegi saja. Keberhasilan ini merupakan buah kombinasi dukungan pemerintah desa dan perusahaan yang efektif dan barang tentu komitmen keras dari para laskar api itu sendiri yang tidak ingin sejengkal parit pun di desa Api Api kembali berapi.

    PENULIS: Devindra Oktaviano (devin.oktaviano@outlook.com)

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad