Riau Biru

  • Breaking News

    Tingkatkan Kapasitas MPA, WWF dan PSB Taja Pelatihan Pembuatan Sekat Kanal

    Foto bersama peserta pelatihan pembuatan sekat kanal yang ditaja WWF-PSB. Foto: Heri Irawan/Riau Biru

    PEKANBARU (15/10) - WWF Riau dan PSB UNRI menggelar pelatihan pembuatan sekat kanal bagi anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) di Desa Buruk Bakul, Bengkalis, pada Jumat (12/10). Sebanyak empat belas orang peserta hadir dalam kegiatan tersebut mewakili tujuh desa lokasi rencana pembuatan sekat kanal: Dompas, Pakning Asal, Batang Duku, Buruk Bakul, Api-Api, Sepahat, dan Tanjung Leban 

    Kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari hingga Sabtu ini merupakan bagian dari program peningkatan kapasitas MPA yang telah disosialisasikan tim relawan sejak bulan lalu. Pada pelatihan ini, setiap peserta terlebih dahulu diminta mengisi kusioner untuk memetakan pengetahuan, sikap, dan minat terkait sekat kanal sebagai instrumen pembasahan lahan gambut.

    Sekretaris desa Buruk Bakul, M. Yusuf, dalam sambutannya menyampaikan terima kasih dan dukungan kepada WWF dan PSB UNRI atas kontribusinya dalam membantu pencegahan kebakaran hutan dan lahan gambut di desanya. Beliau menambahkan kegiatan tersebut merupakan kesempatan emas bagi setiap anggota MPA untuk menunjukkan dedikasinya bagi masyarakat. "Saya menghimbau bagi seluruh peserta MPA dapat bekerja untuk kebaikan desa masing-masing" ujarnya sambil secara simbolik membuka pelatihan.

    3R dan 3 Sense

    Program WWF di Bukit Batu dan Bandar Laksamana dilandasi oleh tiga filosofi aksi restorasi gambut, yakni: Rewetting (pembasahan kembali), Revegetation (penanaman kembali), dan Remobilisation (menggerakkan masyarakat) serta Information (mengembangkan media informasi). Hal ini ditegaskan oleh Nur Anam, site coordinator WWF Central Sumatra, dalam sambutannya yang menekankan perlunya membangun komitmen bersama untuk menjaga gambut tetap basah. Beliau mengutarakan "setelah pelatihan ini diharapkan dalam diri kita muncul sense of belonging (rasa memiliki), sense of participation (rasa turut peduli), dan sense of responsibility (rasa bertanggung jawab) untuk menjaga dan memelihara ini (sekat kanal)".

    Diskusi dan presentasi yang interaktif

    Seorang aktivis lingkungan dari Wahana Lingkungan Hidup (WALHI Riau), Erizal, yang juga akrab dipanggil "Ijal" menjadi narasumber utama dalam pelatihan tersebut. Untuk membangkitkan antusiasme dan peran aktif dari setiap peserta, Ijal mengawali pelatihan dengan membagi peserta kedalam dua kelompok yang masing-masing bertugas membuat sketsa rancangan sekat kanal yang ideal. Setiap perwakilan kelompok diminta mempresentasikan hasilnya dan kemudian antar kelompok saling mengomentari satu sama lain. Pendekatan yang santai dan berorientasi pada peserta ini berhasil menciptakan suasana diskusi yang sangat interaktif dan banyak memunculkan informasi penting yang dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas pembangunan sekat kanal.

    Para anggota MPA peserta pelatihan menggambar sketsa rancangan sebuah sekat kanal. Foto: Adei Wiranda/Riau Biru
    Salah satu kelompok misalnya menawarkan model sekat kanal yang menggunakan pipa paralon di bawah pintu sekat sebanyak tiga batang yang berfungsi untuk mengalirkan air ketika terjadi kekeringan dan juga sejumlah paralon di posisi lainnya untuk mencegah luapan air. Rancangan ini menuai respon yang beragam dari peserta mengingat hal ini sedikit berbeda dari model yang umum digunakan. Para anggota MPA kemudian juga ditantang untuk menuangkan gagasannya dalam membangun sekat kanal di kontur lahan yang tidak rata.

    Status lahan dan jenis material dalam kontruksi sekat kanal merupakan fokus yang disampaikan Erizal dalam presentasi lanjutannya. Struktur sekat kanal yang dibangun di lahan konservasi harus dibedakan dengan yang umumnya di lahan budidaya. Ijal juga menambahkan, pilihan menggunakan kayu atau beton harus diputuskan dengan mempertimbangkan berbagai faktor yang telah disurvei sebelumnya seperti kedalaman dan lebar kanal serta aksessibilitas menuju lokasi pembangunan.

    Samsul Kamar, manajer tim WWF, melanjutkan sesi pelatihan dengan menampilkan cuplikan video dokumenter MPA di Desa Sepahat yang pengambilan gambarnya dilaksanakan pada bulan lalu. Dalam penyampaiannya, beliau yang biasa dipanggil Ican ini menegaskan bahwa ada faktor legal (hukum), sosial, material, dan teknikal yang harus dikaji sebelum membangun sebuah sekat kanal. "Kami menyebutnya sebagai Padiatapa, persetujuan di awal tanpa paksaan, yang harus kita dapatkan sebelum membuat sekat kanal" ujar Samsul Kamar sambil merespon komentar salah seorang anggota MPA tentang salah satu sekat kanal di desanya yang pembangunannya tidak disetujui oleh warga sekitar.



    Pelatihan kemudian berlanjut semakin interaktif setelah Zainuddin, salah seorang perwakilan dari WWF mulai melantangkan pernyataan bahwa pemadaman bukan tugas utama MPA. M. Naswira Saputra misalnya, mengemukakan bahwa bagaimanapun mereka harus melaksanakan apa yang memang bukan tanggung jawab mereka tersebut karena sejauh ini MPA lebih bisa dihandalkan untuk segera menangani kebakaran di lapangan

    Praktek lapangan


    Agenda pelatihan dilanjutkan dengan praktek lapangan pada esok harinya di lokasi pembangunan sekat kanal pertama yang berada di seberang kantor desa Pakning Asal. Dihadiri oleh seluruh anggota MPA setempat, Erizal menjelaskan rancangan yang relevan untuk sekat kanal tersebut sesuai dengan kondisi laju air, lebar kanal dan kontur lahan sekitar. Sambil secara simbolik memulai pemancangan cerocok, Samsul Kamar menambahkan "ini lokasi (pembangunan) sekat kanalnya sudah harus dipastikan tidak akan mengganggu aktivitas warga


    Tim WWF memberikan penjelasan mengenai rancangan sekat kanal di titik lokasi pembuatan sekat kanal pertama di Pakning Asal . Foto: Devindra Oktaviano/Riau Biru
    Rencana lanjutan

    Selain memantapkan rencana pembangunan sekat kanal di tujuh desa, pelatihan dua hari tersebut berhasil memberikan gambaran skema pelaksanaan lanjutan yang paling mampu mengakomodasi kondisi dan kebutuhan desa intervensi. Dalam seminggu kedepan, WWF mengagendakan pembuatan sekat kanal di Desa Pakning Asal dan Desa Dompas, pelatihan sekaligus pemasangan alat deteksi dini kebakaran (EWS) di Desa Buruk Bakul, Api Api, Sepahat, dan Tanjung Leban, memberikan pendampingan penyusunan dokumen tertulis Padiatapa dan memfasilitasi pembuatan regulasi desa terkait tanggung jawab setiap pemilik lahan atas lahannya. 





    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad