Riau Biru

  • Breaking News

    Perdana, WWF Pasang Early Warning System kebakaran lahan di Buruk Bakul dan Api Api

    WWF bersama anggota MPA bekerja sama melaksanakan pemasangan EWS di Desa Buruk Bakul. Foto: Devindra Oktaviano / Riau Biru

    Pekanbaru (27/10) - Kawasan lahan gambut Giam Siak Kecil – Bukit Batu mulai dipasangi perangkat deteksi dini kebakaran pada Jumat (19/10). WWF Indonesia dan PSB UNRI melaksanakan pemasangan tersebut seiring dengan penyerahan alat pemadam kebakaran lahan kepada MPA di lima desa di Kec. Bukit Batu dan Bandar Laksamana.

    Berlokasi di lahan milik salah seorang anggota MPA, Desa Buruk Bakul menjadi lokasi pertama penempatan alat yang dikenal sebagai Early Warning System (EWS) tersebut. Proses instalasi di lapangan langsung didampingi oleh mitra vendor, Elekta Robo Indonesia (ERI), yang sudah lama menjadi mitra WWF untuk kegiatan serupa di provinsi lainnya.

    Seusai menandatangani berita acara penyerahan bantuan fasilitas dukungan MPA di kantor desa, kepala desa Sunaryo langsung bertolak menuju lokasi menyaksikan rangkaian perakitan alat dan penanaman pertama pipa sensor tinggi muka air tanah. Kehadiran langsung kepala desa tersebut menunjukkan antusiasme dan dukungan besar desa Buruk Bakul terhadap berbagai program pencegahan kebakaran hutan dan lahan oleh WWF.

    Zainuddin, manajer kegiatan WWF, yang sebelumnya ketika bertugas di Jambi pernah menyelenggarakan program serupa menuturkan ke Riau Biru bahwa instalasi perangkat semacam ini merupakan yang pertama di Riau. “ini yang perdana ya di Riau, sebelumnya saya sudah pernah pasang di Jambi dan sampai sekarang masih bisa dimonitor tuh data lapangannya. Sekarang kita coba ini di Riau” ujarnya. 

    Selama dua jam, vendor dan tim WWF Indonesia menjelaskan gambaran umum cara kerja EWS kepada para anggota MPA dan mendampingi mereka dalam merakit dan memasang alat tersebut. Kegiatan ini sekaligus ajang meningkatkan kapasitas MPA dalam memasang instrumen-instrumen teknologi pencegahan kebakaran di masa-masa mendatang.  

    Multi sensor, Multi akses

    Pendeteksian potensi kebakaran yang cepat dan akurat dilakukan melalui data yang dihasilkan dari kombinasi berbagai faktor penentu. Sistem EWS yang digunakan WWF tersebut mampu menampung dan mengumpulkan data dari hingga delapan sensor, diantaranya: tinggi muka air tanah, arah angin, kecepatan angin, suhu, curah hujan, komponen gas di udara, kelembaban dan satu sensor internal, kapasitas baterai.

    Diwawancarai oleh Riau Biru, Herman, perwakilan PT. ERI mengemukakan bahwa EWS tersebut memiliki kelebihan dibandingkan perangkat serupa yang telah diperkenalkan dan dipasang di berbagai wilayah oleh beberapa pihak. Sistem akses data EWS terbuka untuk semua kalangan yang mendapat izin dari pengelola (WWF) seperti pemerintah desa setempat, anggota MPA, dan akademisi.

    “…Disini kami memiliki nilai lebih, datanya bisa diakses banyak pihak, tidak terbatas pada satu pihak pengelola saja. Bahkan EWS ini nanti akan memberikan update ke aplikasi telegram yang kita tahu banyak dijumpai di ponsel-ponsel Android yang kita pakai sehari-hari” ujar Herman. Setidaknya pada tahap pertama, melalui alat ini WWF berhasil menjawab keluhan sejumlah desa yang merasa tidak dapat mengakses data dari alat-alat yang telah terpasang di desa sebelumnya.

    Meliputi seluruh wilayah

    Di hari yang sama, tim melanjutkan pemasangan ke Desa Api Api yang berlokasi di lahan milik salah seorang warga dan berada cukup jauh dari jalan lintas utama desa. Setelah mendapat restu dari kepala desa, Edi Ferizal, pada pagi harinya, tim melaksanakan pemasangan EWS yang merupakan yang pertama di Kecamatan Bandar Laksamana. 

    Meskipun diguyur hujan lebat, anggota MPA setempat yang langsung dikomandoi ketua MPA, Surya, dengan semangat tetap melaksanakan pemasangan bersama tim WWF, vendor, dan relawan PSB UNRI. Pemasangan terbantu dengan karakteristik lahan gambut yang lebih tebal dan basah sehingga tidak memerlukan penentuan dan penggalian titik pancang yang berulang.


    Anggota MPA Desa Api-Api bergotong-royong memasang data logger pada tiang utama alat EWS. Foto: Heri Irawan / Riau Biru

    EWS yang berada di kedua desa tersebut merupakan bagian dari total sepuluh unit yang direncanakan WWF untuk kawasan Bukit Batu. Dengan radius deteksi setiap unitnya yang mencapai 5 km, maka dengan kombinasi kesepuluh EWS tesebut, seluruh desa intervensi program WWF dapat terlingkupi. 

    Iwan, ketua MPA gabungan Kecamatan Bukit Batu yang turut hadir dalam kegiatan menyampaikan dukungannya mengingat alat tersebut mampu membantu kerja MPA secara signifikan. Beliau mengatakan “saya lihat nampaknya menarik EWS ini karena kan kalau bisa lihat datanya dari hape, berarti terbantu sekali kerja kita MPA ini, apa lagi kami juga punya banyak keterbatasan untuk patroli mengamati potensi kebakaran di lahan setiap saat”.

    Kegiatan pemasangan beserta penempatan sensor diagendakan tuntas hingga akhir November ini. Riau Biru akan menjadi media mitra untuk menyampaikan potensi dan kondisi kebakaran lahan berdasarkan data EWS di wilayah Kecamatan Bukit Batu dan Kecamatan Bandar Laksamana  kedepannya.

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad