Riau Biru

  • Breaking News

    Tindak- Lanjuti Kajian Hidrologi, Suitability serta Biodiversitas Gambut, WWF Lakukan Sinergi dengan Berbagai Lembaga

    Sambutan dari Suhandri, Sumatra Director, WWF Indonesia. Foto : Heri/WWFID

    Pekanbaru (31/8); WWF Program Sumatera Tengah kembali mengadakan pertemuan untuk menindaklanjuti hasil kajian hidrologi, suitabilty dan biodiversitas gambut serta rencana implementasinya di 10 Desa Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis. Dalam pertemuan ini, turut serta beberapa lembaga dan NGO yang telah melakukan kajian langsung di lapangan antara lain Pusat Studi Bencana UR, Jikalahari, Walhi, serta Yayasan Mitra Insani.

    Dalam sambutannya, Suhandri, selaku Sumatra Director, WWF Indonesia mengungkapkan bahwa telah dilakukan upaya untuk mengurangi kebakaran lahan gambut di 10 desa target, salah satunya melalui sistem pusat informasi. 

    “Penguatan ekosistem gambut di Bukit Batu kita lakukan melalui 3RE+. Sudah ada satu yang terlaksana yaitu remobilisasi. Kita membutuhkan masukan dari pihak UR terkait kajian hidrologi serta biodiversity, sementara lembaga lain seperti YMI, Jikalahari dan Walhi yang nantinya akan menguatkan implementasi di lapangan”.

    Konsep 3RE+ di Bukit Batu dilakukan dengan memperkuat MPA (Masyarakat Peduli Api) di 10 desa target, pembasahan areal gambut salah satunya dengan sekat kanal, rehabilitasi lahan serta strategi paludikultur untuk pertanian yang ramah gambut. Sementara untuk poin plus (+) dari konsep ini dilakukan dengan membentuk pusat informasi pengelolaan gambut yang menginformasikan implementasi 3RE ini kepada masyarakat.

    Adapun tujuan dari pertemuan ini yakni untuk menghimpun gagasan  atau pemikiran dari berbagai lembaga terkait, serta mendiskusikan butir-butir rekomendasi terhadap kajian yang telah dilakukan sehingga terbentuk sinergi antar lembaga dalam upaya restorasi gambut di 10 desa target.

    Acara yang diadakan di Bertuah Hall Hotel Pangeran ini dihadiri oleh beberapa narasumber diantaranya Dr. Eng. Sigit Sutikno, ST, MT  (Universitas Riau), Drs. Ahmad Muhammad, M.Si (Universitas Riau), Herbert (Yayasan Mitra Insani), Irina Sari (Jikalahari), Rafi Herbantas (WALHI Riau) dan Petris Perkasa (WWF kalimantan).

    Dalam pemaparannya, Sigit Sutikno menyebutkan bahwa untuk kajian hidrologi, telah dilakukan survey pengukuran kanal menggunakan RTK-GPS Geodetik, yang mana keberadaan kanal bersesuaian dengan histori kejadian kebakaran lahan.

    “Disini kita mengukur kecepatan aliran (debit) air masuk dan keluar. Untuk air yang masuk, diperoleh dari data hujan satelit (TRMM). Sementara untuk data air yang keluar diketahui dari pengukuran langsung di lapangan.” Selain itu juga, dilakukan inventarisasi dan assessment sekat kanal untuk mendata untuk mendata keberadaan dan kondisi tata air aktual di lapangan.

    Pada kesempatan yang sama, Ahmad Muhammad juga menyampaikan pentingnya melakukan survey keanekaragaman hayati yakni untuk mengetahui apa yang “hilang” sebagai akibat dari deforestasi dan konversi lahan hutan pada lansekap Bukit Batu.

    Sementara untuk implementasi di lapangan, Yayasan Mitra Insani telah melakukan penguatan MPA serta rewetting lahan gambut, khususnya di Desa Tenggayun, Sepahat dan Desa Tanjung Leban. Jikalahari juga melakukan sosialisasi terkait program pengelolaan gambut serta mengidentifikasi sekat kanal di Desa Buruk Bakul dan Desa Api-Api. Walhi Riau pun melakukan survey langsung ke masyarakat terkait sekat kanal yang dibuat oleh masyarakat Dompas, Pangkalan Jambi serta Pakning Asal.

    Hal serupa juga dilakukan oleh Petris Perkasa, perwakilan dari WWF Kalimantan yang berbagi cerita tentang restorasi hidrologi melalui pembangunan sekat kanal di kawasan Taman Nasional Sebangau, Kalimantan Tengah. Ia menyebutkan bahwa pada tahun 2014, Kalimantan juga mengalami kebakaran hebat. Berkaca dari hal tersebut, WWF Kalimantan tidak hanya melakukan survey kanal tetapi juga menggalakkan program PADIATAPA (pemberitahuan diawal tanpa paksaan) dengan masyarakat sekitar TN. Sebangau. “Kami disini membangun sekat kanal sesuai dengan kearifan lokal masyarakat. Konsepnya, perbaiki dulu tata kelola airnya, baru setelah itu dilakukan revegetasi.” Ungkap Petris. 

    Peserta Pertemuan Hasil Kajian Hidrologi, Suitability Serta Biodiversitas Gambut. Foto : Heri/WWFID
    Pertemuan ini diharapkan dapat menjadi masukan serta bahan pertimbangan bagi tiap lembaga terkait implementasi lanjutan dari kajian hidrologi, suitability  serta biodiversity di 10 desa Bukit Batu. Melalui program ini pula, harapannya gambut tidak hanya menjadi penyedia air saat musim kering tetapi juga menunjang perekonomian masyarakat lokal.

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad