Riau Biru

  • Breaking News

    Kenduri Proklamasi: Momentum Perjuangan Restorasi Gambut dari Tingkat Tapak

    Desa Tanjung Leban, Kamis (17/7) ;  Upacara Peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-72 di Desa Tanjung Leban pagi itu terlihat lebih ramai dari sebelumnya. Sejak pukul 07.00 WIB, tim BRG  bersama PSB UR, serta masyarakat Desa Tanjung Leban telah hadir di lapangan upacara, meski cuaca saat itu tengah gerimis. Kedatangan tim BRG saat itu tidak hanya untuk mengikuti upacara melainkan untuk mengimplementasikan sebuah program yang telah direncanakan sejak lama, yakni pembentukan Pondok Kerja Restorasi (PKR). 

    “Tepat di Hari kemerdekaan RI yang ke 72 tahun ini, PSB UR bekerjasama dengan BRG khususnya dibawah deputi IV, mencoba untuk  membangun sebuah PKR atau yang disebut orang melayu oemah unding restorasi di kebun pak Nur, sebagai tonggak bahwa restorasi dan keberlanjutannya dimulai dari tapak ini.” jelas Adhy Prayitno, selaku ketua pelaksana PSB UR.
      
    Badan Restorasi Gambut Bersama PSB UR Saat Mengunjungi Lokasi Pondok Kerja Restorasi. Foto : PSB-UR/Tantia Shecilia
    Peristiwa kebakaran yang terjadi 8 tahun lalu menjadi alasan utama kebun ini dipilih sebagai lokasi pembangunan Pondok Kerja Restorasi nantinya. Sebanyak 2 hektar lahan kebun yang dulu habis dilalap api, kini telah ditumbuhi oleh bermacam-macam pohon lokal seperti Bintarung, Jelutung, Meranti, dll. “Dulu, lahan saya saya terbakar dan mengering. Kemudian pak Haris datang dan menjelaskan kepada saya tentang lahan gambut. Sejak tahun 2010 kami mulai menanam pohon lokal. Berkat dukungan dan motivasi dari BRG serta PSB, tanaman yang kami tanam dapat tubuh dengan baik di kebun ini.” ungkap pak Nur sambil melayangkan pandangannya kepada persitiwa itu. Kebun ini juga digadang-gadangkan sebagai bentuk nyata restorasi gambut yang diinisiasi oleh masyarakat.

    Dalam kesempatan yang sama, Direktur Pengendalian Kerusakan Gambut KLHK, Wahyu Indraningsih juga mengungkapkan bahwa restorasi gambut dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan. Kebun ini merupakan salah satu contoh pendekatan restorasi vegetasi. Ini juga menjadi bukti bahwa masyarakat lokal bisa berkontribusi secara nyata melakukan memanam tumbuh-tumbuhan. Harapannya percontohan ini dapat memberikan pembelajaran bagi semua pihak.

    Aksi ini dimulai dengan  penandatanganan kertas Tekad Gerakan Aksi Penguatan dan Perluasan Restorasi Gambut di Tapak atau yang mereka sebut “kanvas perjuangan”, sebagai bentuk komitmen berbagai pihak  untuk sama-sama berkontribusi dalam upaya restorasi gambut. Hal yang perlu diingat bahwa restorasi gambut merupakan bagian dari proses yang terus menerus dilakukan sehingga diperlukan keterlibatan seluruh pihak mulai dari masyarakat, pemikir serta peneliti. 

    Penandatanganan Kanvas Perjuangan oleh Deputi IV Penelitian dan Pengembangan BRG, Dr. Haris Gunawan. Foto : PSB-UR/Tantia Shecilia
    Aksi ini kemudian dilanjutkan dengan Kenduri Proklamasi yang diadakan pada malam harinya, di Balai Desa Tanjung Leban. Kenduri proklamasi dimaksudkan sebagai ungkapan syukur atas peletakan tapak restorasi serta untuk  membangun kebersamaan dan penyamaan cara pandang terhadap masalah restorasi gambut. Dalam kenduri ini, hadir pula berbagai tokoh restorasi gambut dari berbagai daerah di Riau yang saling berbagi cerita tentang perjuangan saat melakukan restorasi lahan gambut di lahan mereka. Dengan mengambil momentum peringatan perjuangan nasional, maka para pejuang restorasi gambut berkumpul untuk saling berkoordinasi, memacu kembali semangat juang dan saling meneguhkan.

    Kenduri Proklamasi di Balai Desa Tanjung Leban. Foto : PSB-UR/Tantia Shecilia
    Dalam sambutannya, Haris Gunawan juga menyebutkan bahwa Pondok Kerja Restorasi yang ada di Desa Tanjung Leban merupakan yang pertama di Indonesia. Ia berharap Pondok Kerja Restorasi yang dibangun nantinya dapat menjadi “rumah” baik untuk akademisi yang akan melakukan penelitian ataupun untuk masyarakat yang ingin bekerja. “Yang jelas kegiatan restorasi gambut itu berbasis pengetahuan, teknologi, inovasi serta terobosan. Untuk mempercepat supaya ada transfer pengetahuan, teknologi inovasi serta terobosan tadi harus ada bukti konkrit. Dan disini lah tempatnya bagaimana kita mempelajari restorasi gambut lebih luas lagi.” tutupnya.

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad