Riau Biru

  • Breaking News

    Makna Hotspot



    Sering kita membaca running text suatu berita di televisi seperti “Satelit NOAA mendeteksi 178 titik api di Provinsi Riau”. Istilah titik api ini adalah istilah rancu yang dapat menyebabkan salah interpretasi dari berita tersebut. Hal ini akan menyebabkan masyarakat bahkan dari kalangan pemerintah pusat maupun daerah, menganggap bahwa titik api adalah jumlah kejadian kebakaran lahan/hutan yang terjadi di suatu wilayah.

    Padahal yang dimaksud titik api yang dideteksi dari Satelit NOAA adalah titik panas atau hotspot. Pemahaman titik panas atau hotspot berbeda dengan titik api. Hotspot didefinisikan sebagai obyek titik panas di permukaan bumi dan terekam oleh satelit National Oceanic and Atmospheric Administration 18 (NOAA-18) dengan resolusi spasial 1 km x 1 km.

    Hotspot juga bisa didefenisikan sebagai suatu area yang memiliki suhu relatif lebih tinggi dibandingkan dengan sekitarnya yang dapat deteksi oleh satelit. Area tersebut direpresentasikan dalam suatu titik yang memiliki koordinat tertentu. Titik panas yang terdeteksi bersuhu melebihi ambang batas tertentu akan diidentifikasi satelit NOAA 18 sebagai hotspot.

    Negara- negara anggota ASEAN sepakat bahwa ambang batas panas didefinisikan sebagai hotspot apabila mencapai 321o K (48o C). Perlu dipahami, suatu hotspot belum tentu terdapat titik api atau kebakaran hutan. Hotspot digunakan sebagai indikator sebagai kemungkinan ada kebakaran hutan. Semakin banyak hotspot, indikasinya banyak kebakaran lahan dan hutan. Sementara itu, titik api merupakan sumber api di hutan dan lahan pada luasan tertentu yang diidentifikasi oleh satuan tugas di darat. Ukuran titik api bervariasi dari yang kecil sampai besar.

    Satelit yang biasa dikenal untuk mendeteksi hotspot/titik panas adalah Satelit NOAA dan Terra/Aqua MODIS. Secara kualitas memang benar, bahwa jumlah hotspot/titik panas yang banyak dan menggerombol menunjukkan adanya kejadian kebakaran lahan/hutan di suatu wilayah. Namun secara ilmiah, masih banyak kesalahan-kesalahan (errors) yang masih perlu diperhatikan. Kesalahan-kesalahan yang sering dianggap benar dalam interpretasi titik panas/hotspot adalah sebagai berikut:

    1.  Koordinat titik panas/hotspot merupakan lokasi kejadian kebakaran lahan/hutan.
    Hasil penelitian Lapan menunjukkan bahwa error horizontal hotspot adalah sekitar 1 s.d 2 km dari koordinat ditunjukkan. Jadi jika melihat keakuratan data hotspot perlu dilihat dalam rentang radius 1 s.d 2 km. Hal ini dapat dijelaskan bahwa resolusi spasial (ukuran piksel dari citra) baik Satelit NOAA maupun Terra/Aqua MODIS adalah 1 km x 1 km di bagian tengah citra yang dihasilkannya. Untuk di wilayah pinggir, resolusi spasialnya bisa 2 km x 2 km, sehingga kesalahan bisa mencapai maksimal 2 km. Koordinat titik panas/hotspot adalah titik tengah dari piksel citra satelit NOAA atau Terra/Aqua MODIS. Sumber kebakaran yang diidentifikasikan sebagai hotspot dapat berada di area piksel satelit tersebut.

    2.  Jumlah hotspot merupakan jumlah kebakaran lahan/hutan yang terjadi di lapangan.
    Jumlah hotspot bukan merupakan jumlah kejadian kebakaran lahan/hutan di lapangan. Dua kejadian kebakaran yang masih dalam radius 500 m dapat dideteksi hanya satu hotspot, dan sebaliknya kejadian kebakaran lahan/hutan yang sangat besar dapat dideteksi lebih dari 2 hotspot (Gambar 1). Bahkan satu kebakaran kecil namun panasnya sangat tinggi dapat menghasilkan lebih dari 2 hotspot.

    3.  Jumlah hotspot dapat dikonversi menjadi luas kebakaran.
    Merujuk pada kesalahan nomer 2 maka, hotspot tidak dapat dikonversi menjadi luas kebakaran lahan/hutan. Jika hal ini dipaksakan maka kesalahan yang terjadi sangat besar. Sebaiknya untuk menghitung luas kebakaran lahan/hutan digunakan data satelit dengan resolusi lebih tinggi seperti Landsat atau SPOT.

    Hotspot atau kebakaran akan mudah muncul pada beberapa tipe vegetasi, antara lain: rumput atau alang-alang, semak belukar dan hutan terdegradasi.  Sedangkan pada jenis tanah, hotspot cenderung banyak muncul pada jenis tanah  gambut.

    Penulis : Tantia Shecilia

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad